RIBUAN warga memenuhi muara sungai Singkil, Aceh Singkil, Rabu, 1 April 2015, untuk memburu buaya yang selama ini berkonflik dengan manusia, hingga menyebabkan nyawa melayang.

Mereka yang melakukan perburuan mulai dari warga biasa, pawang buaya, hingga pejabat, seperti Wakil Bupati Dulmusrid dan Sekda Drs Azmi. Termasuk tim dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), yang membawa peralatan khusus perangkap buaya.

Di lokasi, dengan mengandalkan tumpangan perahu, berbagai cara dilakukan warga untuk menangkap buaya. Ada yang berusaha memancingnya menggunakan kail terbuat dari besi beton. Sementara orang pintar memilih berdoa di pinggir sungai ‘memanggil’ buaya yang telah memakan manusia. Konon buaya yang telah berbuat salah akan menyerahkan diri begitu dipanggil sang ahli.

Hingga siang kemarin perburuan belum membuahkan hasil. Di lokasi warga menemukan buaya berukuran kecil, namun tidak berhasil ditangkap. Maklum di sanalah merupakan sarang buaya. “Ramai sekali di sungai, tapi belum berhasil menangkap buaya,” kata Azwir warga yang ikut berburu buaya.

Warga juga berbagi tugas. Sebagian turun ke sungai berburu buaya, penduduk lainnya membuka dapur umum. Memasok kebutuhan logistik bagi para pencari buaya yang telah memakan manusia. Terutama bagi warga yang terus bertahan di lokasi pencarian. Menjelang sore, makin banyak warga yang ikut memburu buaya, sepulang mereka bekerja.

Perburuan buaya tersebut, dipicu dimakannya Yursil penduduk Siti Ambia, Singkil, Minggu sore, 29 Maret 2015. Korban dipastikan dimakan buaya ketika mengambil lokan di sekitar Muara Sungai Singkil. Hal itu, berdasarkan kesaksian tim pencari yang melihat empat ekor buaya mencabik-cabik badan pria malang itu. (aceh.tribunnews.com)