SEBELUM kebijakan likuidasi Petral dilakukan, anak usaha PT Pertamina yang bermarkas di Singapura ini memang menjadi sorotan. Setelah pemerintahan baru terbentuk, Tim Transisi Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) melontarkan rencana membekukan Petral.

Petral berdiri pada 1969 dengan nama PT Petral Group dengan dua pemegang sahamnya yakni Petra Oil Marketing Corporation Limited dan Petral Oil Marketing Corporation. Yang pertama terdaftar di Bahama dengan kantornya Hong Kong. Satu lagi terdaftar di California, Amerika Serikat.

Pada 1978, kedua perusahaan pemegang saham itu merger dengan mengubah nama menjadi Petra Oil Marketing Limited yang terdaftar di Hong Kong.

Lalu pada 1979-1992, kepemilikan saham Petra Oil Marketing Limited dimiliki oleh perusahaan Zambesi Invesments Limited yang terdaftar di Hong Kong dan Pertamina Energy Services Pte Limited yang terdaftar di Singapura.

Saat itu, dominasi saham Pertamina mulai terganggu dengan masuknya keluarga Cendana. Dengan mudahnya, Tommy Soeharto tercatat sebagai pemilik 25 persen saham Petra Oil Marketing Limited. Pangeran Cendana itu, tak sendiri. Adapula Bob Hasan yang masuk lewat Nusamba. Jatahnya sama pula, 25 persen.

infografis-petral

sumber: petral/metrotv

Setelah berganti rezim, Pertamina mengambil alih saham Tommy dan Bob Hasan, akhir 1998. Berdasarkan persetujuan pemegang saham, namanya berubah menjadi Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), Maret 2001. Selain Pertamina, sahamnya juga dimiliki Zambesi Invesments Limited dan Pertamina Energy Services Pte Limited.

Tugas Petral melakukan jual beli minyak. Lebih tepatnya membeli minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas itu dilakukan di Singapura. Pilihan berkantor di Singapura karena melihat perkembangan negara itu yang melesat sejak 1980. Perdana Menteri Lee Kuan Yew berhasil menyulap Negeri Singa menjadi pusat keuangan kelas dunia.

Apalagi, saat itu perkembangan Hongkong mulai meredup. Setelah Hongkong kembali ke pangkuan China, perdagangan minyak mulai bergeser. Singapura menjelma menjadi pusat perdagangan minyak di Asia.

Selain urusan trading, Petral bertugas sebagai market intelligent bagi Pertamina. Artinya, Petral harus bisa memberikan informasi terbaru dan akurat. Agar tercapai, Petral harus memiliki jaringan yang kuat di bisnis emas hitam ini.

Alhasil, Petral juga bisa menekan high cost. Di 2011, Petral berhasil membukukan efisiensi impor BBM sampai US$ 283 juta. Andai kedudukan Petral bukan di Singapura, belum tentu bisa berhemat. Ternyata, posisi menentukan prestasi.

Pada 2011 PetralĀ  membukukan trading sebanyak 266,42 juta barel yang terdiri dari 65,74 juta barel minyak mentah dan 200,68 juta barel berupa produk. Dari aktivitas perdagangannya, Petral membukukan pendapatan sebesar US$ 31,4 miliar dengan profit margin sebesar US$ 47,5 juta.

Petral berhasil membukukan efisiensi harga yang didapat terhadap market price pada tahun 2011 adalah Rp 2,6 triliun untuk pengadaan Produk BBM (Mogas 88 RON & HSD 0.35% S) serta Rp 0,4 triliun untuk pengadaan crude impor.

Setelah pembubaran Petral, Menteri ESDM Sudirman Said memberi pesan kepada para pelaku bisnis migas, yang selama ini mendapat keuntungan lewat jual beli minyak impor tidak mengganggu PT Pertamina.

“Para saudagar tolong bermain dengan cara baru. Jangan kembali cara lama. Kasihan bangsa dan Pertamina,” kata Sudirman saat press conference Likuidasi Petral di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2015.

Saat ini, impor BBM untuk kebutuhan nasional dipegang oleh Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC).

“Market akan datang ke kita. Karena kita besar. Saya utarakan ke pedagang, main dengan cara baru,” jelasnya.

Selain memberi pesan kepada saudagar minyak mentah, Sudirman juga memberi saran kepada Direksi Pertamina untuk ‘membersihkan’ karyawan di level bawah yang terlibat dalam unit bisnis ISC.(inilah.com, detik.com)