Blangpidie telah lama menjadi magnet bagi pedagang dari luar. Salah satunya, para pedagang dari Gayo Lues.

Kisah pertemuan budaya Aceh Barat Daya dengan Gayo Lues sudah terjadi sejak awal-awal kemerdekaan Indonesia. Dimulai lewat perdagangan tembakau. Beberapa orang dari dataran tinggi Gayo Lues turun ke Blangpidie, menembus belantara selama hampir sepekan.

Pedagang tembakau ini datang dari Trangon, dulu masuk ke kawasan Kabupaten Aceh Tenggara. “Mereka datang melalui jalan tikus yang tembus ke Kuta Tinggi,” ujar Anas Djabo, warga Gampong Lhok Gayo, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya. Saat itu, satu-satunya jalan tembus yang tersedia memang lewat Kuta Tinggi.

Blangpidie yang dipilih sebagai tempat menjual barang dagangan ketika itu memang sudah dikenal sebagai kota dagang. Selepas berjualan, para pedagang menuju Babahrot untuk beristirahat. Tak seperti saat ini, jalur ke Babahrot ketika itu berupa jalan batu penuh lubang. Butuh seharian untuk tiba di sana.

Lama-kelamaan, sebagian pedagang membangun rumah di Alue Jerjak, Babahrot. Sisanya kembali ke Trangon dan tetap menjual tembakau ke Blangpidie. “Sistemnya mirip barter. Setelah menjual tembakau mereka memborong barang lain seperti ikan asin maupun perabotan rumah tangga,” ujar Husni, warga Blangpidie. Barang-barang itu dipikul hingga Trangon.

Namun, kata Ketua Gayo Musara Abdya, Sulkhaidi Djabo, pedagang Gayo juga ada yang menetap di Gampong Jeumpa, Kecamatan Kuala Batee, dan Gampong Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie. “Karena kawasan-kawasan itu berada dekat gunung. Lagi pula, orang Gayo kalau melihat tanah yang datar itu paling suka, bila dibandingkan dengan di sana yang banyak pengunungan,” ujar Sulkhaidi.

Selain berdagang, kata dia, orang-orang Gayo mencari tanah sebagai tempat membuka kebun dan mendirikan rumah.
Sekitar 1970-an, kata Anas, telah ada lima keluarga Gayo bermukim di wilayah bernama Pantai Rakyat. Rumah mereka tersuruk di antara rimbun hutan. Mulailah para perantau menebas belukar di Pantai Rakyat agar menjadi perkampungan. Lima kepala keluarga yang membuka perkampungan itu, kata Anas, adalah Aman Jaksa, Waki Saleh, Aman Nur, Aman Ali Nyerang, dan Aman Jerjak. Dua nama terakhir orangnya sudah meninggal dunia.

Lokasi kampung ini berada jauh ke dalam; sekitar satu kilometer dari jalan nasional. Warga setempat menyebutnya lhok. Lambat laun kawasan itu dikenal sebagai Lhok Gayo.

Awalnya, Lhok Gayo hanyalah dusun. Ketika itu, masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Selatan sebelum Aceh Barat Daya dimekarkan. Baru pada 2011 Lhok Gayo dipersiapkan oleh Pemerintah Aceh Barat Daya menjadi gampong. Keuchik Persiapan Gampong Lhok Gayo bernama Teungku M. Saleh Pasir. “Pasir itu salah satu nama gampong yang berada di Gayo Lues,” ungkap Anas.

Lambat laun, Lhok Gayo bertambah padat. Orang Gayo dari Takengon, Bener Meriah, maupun Tamiang, datang dan menetap di sana. Akulturasi budaya pun terjadi. “Bahasa Gayo yang ada di Aceh Barat Daya pun berbeda dengan bahasa Gayo di daerah lain karena masyarakatnya sudah bercampur,” ujar Anas.

Warga Lhok Gayo hampir semuanya berkebun sawit, kakao, pinang, dan durian. Bahkan, Lhok Gayo menjadi penghasil durian terbanyak di Babahrot. Hampir setiap musim panen, durian di sana banyak dijual ke Gayo Lues.

Sebelumnya, akibat kesulitan ekonomi, sekitar 1990 hingga 2000 sebagian warga di Lhok Gayo menanam ganja. “Sekarang, taraf ekonomi di bidang perkebunan sudah meningkat. Tidak ada lagi masyarakat menanam ganja,” ujar Anas.

Apalagi, pada 2007 Pemerintah Aceh Barat Daya mencanangkan program perkebunan rakyat. Sebelum ada program itu, wilayah Lhok Gayo seluas 800 hektare umumnya rawa-rawa.

Jumlah penduduk Lhok Gayo kini mencapai 1.200 orang. Ada 300 keluarga mendiami gampong itu. Sejak 2007, sudah banyak generasi muda di sana melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Anas Djabo contohnya. Ia mantan aktivis mahasiswa di Jakarta dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Respati Indonesia.

Anas generasi kedua Lhok Gayo yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebelum dia, abangnya kuliah di Unsyiah pada 1998. “Dulu masyarakat di sana berpikir pendidikan itu tidak penting buat anak-anak mereka. Sehingga setelah tamat Sekolah Dasar hanya beberapa orang saja yang melanjutkan ke SMP dan SMA. Begitu juga kuliah hanya beberapa orang,” ujar Anas.

Bicara percampuran budaya, kata Anas, terlihat saat pesta sunat rasul dan resepsi pernikahan. Baju pengantin memakai adat Aceh Barat Daya. “Hanya orang-orang tertentu menggunakan baju adat Gayo karena mahalnya ongkos antar pakaian dari Gayo Lues ke Lhok Gayo,” ujar Anas. Selain itu, sekitar 50 persen warga Lhok Gayo sudah kawin dengan orang Aceh. “Tidak tertutup kemungkinan hal itu terjadi pada saya,” ujar Anas sembari tertawa.

Karena pertumbuhan penduduk Gayo di Aceh Barat Daya terus bertambah, pada 16 April 2002 di Seunaloh, Kecamatan Blangpidie, dibentuk Gayo Musara Abdya. “Ini wadah mempererat sesama warga Gayo dan sebagai tempat silaturahmi,” ujar Sulkhaidi Djabo. Pengurus dan anggotanya, bukan dari Gayo Lues saja tapi orang Gayo dari berbagai daerah lain seperti Takengon, Bener Meriah dan Aceh Tenggara. “Memang mayoritasnya dari Gayo Lues,” ujar Sulkhaidi.

Penyebab lain dibentuknya forum itu, kata dia, karena selama ini banyak generasi muda Gayo tidak lagi bertutur bahasa tersebut. “Apalagi anak-anak sekarang banyak diajarkan bahasa Indonesia sejak dari kecil sehingga bahasa daerah itu terlupakan, baik bahasa Gayo maupun bahasa Aceh sendiri,” ujar Sulkhaidi.

***

Kini, setelah beberapa generasi, pertemuan Gayo Lues dengan Aceh Barat Daya terus terjadi lewat perdagangan. Bila dulu pedagang tembakau Gayo turun ke Blangpidie, kini terjadi sebaliknya. Banyak pedagang Aceh Barat Daya naik ke Trangon untuk berjualan di sana. Setelah itu mereka membeli hasil bumi di sana untuk dijual kembali di Blangpidie.

Salah satu yang melakoninya Azhar. Ia mugee eungkot (pedagang ikan). Azhar membawa ikan untuk dijual. Setelah itu ia memborong komoditi seperti cabai, tembakau, bawah merah, kemiri, dan pinang. Sesekali, ketika hari meugang, Azhar membawa kerbau dari Gayo Lues. “Kalau tidak ada kerbau dari Gayo Lues diprediksikan meugang di Aceh Barat Daya tidak begitu meriah,” ujar Azhar yang juga Asosiasi Pedagang Ikan Abdya atau APIA ini. Ia telah tujuh tahun berdagang ikan ke Gayo Lues.

Namun, sejak Januari tahun lalu sudah jarang pedagang ikan naik ke Trangon. Kendalanya, jalan yang terjal dan kerap longsor. Ada empat titik longsor, mulai dari Singgah Mata, Gunong Lama Rayeuk, Gunung Liepeh, dan Kayu Kesit. “Di Sungai Malelang, pedagang mesti mengangkat sepeda motor mereka karena tidak ada jembatan,” ujar Azhar.

Jarak antara Babahrot ke Kecamatan Trangon sekitar 77 kilometer. Waktu tempuh sekitar tiga jam. Jalan yang sudah diaspal dari sekitar 12 kilometer, selebihnya masih jalan batu.

Para pedagang membawa ikan dan menjual dengan harga sedikit lebih mahal di Trangon. Bila harga ikan di Aceh Barat Daya naik, kata Azhar, otomatis berpengaruh pada tingkat penjualan. Namun, mahal atau murah ikan di Aceh Barat Daya, Azhar tetap naik ke sana karena itu pekerjaan tetapnya. “Biasanya kami menjual ikan basah, ikan asin, dan bensin. Cabai banyak dibeli di Gampong Lukut dan tembakau di Gampong Padang Kecamatan Trangon,” ujar Azhar.

Dalam sepekan, sekitar tiga kali Azhar naik ke Gayo Lues. Sekali naik ia membawa 70 kilogram ikan. Adakalanya, ia menginap semalam di sana. Azhar kerap menginap di Warung Karisma milik Pak Saleh. “Selain sudah menjadi langganan, biaya makan murah dengan lima belas ribu rupiah sudah cukup untuk sekali makan,” ujarnya.

Faktor penyebab mudahnya Gayo Lues terkoneksi dengan Aceh Barat Daya, kata Ketua Gayo Musara Abdya, Sulkhaidi Djabo, karena letak kedua kabupaten itu saling menguntungkan. Apalagi, dalam hubungan dagang. “Komoditi antara Aceh Barat Daya dan Gayo Lues memang sangat jauh berbeda. Apalagi yang harganya murah di Gayo lues itu mahal di Abdya dan sebaliknya,” ujar Sulkhaidi.

Hargai cabai, kata dia, sangat murah di Gayo Lues tetapi mahal di Aceh Barat Daya. Sementara ikan asin tergolong murah di Aceh Barat Daya tetapi mahal di Gayo Lues. “Apalagi sistem kehidupan masyarakat di Gayo Lues ke pasar satu pekan sekali setelah itu berdagang. Bekal untuk berladang mungkin cukup dibawa ikan asin dengan minyak makan, dan garam. Selebihnya itu ada di ladang.” Selain itu, perbedaan suku dan adat menjadi faktor pemudah jalinan kerjasama. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.