in

Pesisir dan Laut Abdya: Gadis Cantik yang Tersia?

Kalau kita mengaji sejarah, banyak negara besar di kepulauan nusantara memulai debut kebesarannya sebagai negara maritim. Selama ratusan tahun, laut menjadi urat nadi perekonomian kepulauan terbesar di dunia ini. Lalu, pada suatu titik, dalam bentang sejarah, pemerintah Nusantara melupakan laut dan berpaling ke daratan. Ini berlaku di sektor ekonomi, pendidikan, bahkan pertahanan.

Bagi sebagian besar penduduk Indonesia sekarang, peran laut menyempit hingga hanya menjadi jalur transportasi. Bahkan, sekedar penghibur, menjadi lokasi piknik saat liburan belaka. Seperti Malin Kundang, kita melupakan apa yang selama berabad-abad telah membawa nusantara ke panggung kemasyhuran dan kemakmuran.

Potensi Laut dan Pesisir
Lautan menutupi 70 persen permukaan Bumi. Hanya sepertujuhnya yang telah dijelajahi, dipelajari dan digali potensinya. Sementara umat manusia berjejal-jejal memenuhi daratan. Lautan terbentang luas, penuh ruang, penuh potensi.

Demikian besar potensi itu, hingga bila satu negara sanggup mengelola perairannya dengan benar, maka boleh dipastikan bahwa setiap warganya akan terjamin hidupnya.
Sebagai contoh, industri perikanan saja, yang hanya sepertiga dari potensi laut secara keseluruhan, telah memberikan Thailand pemasukan menggiurkan, sebesar 909 juta USD per tahun. Industri pengolahan tuna Thailand adalah yang terbesar di dunia.

Vietnam yang dulu tertinggal dibanding Indonesia, kini mengejar dengan kecepatan luar biasa, dan tengah memanjat untuk menjadi nomor empat dalam industri tuna dunia. Padahal, inilah ironisnya, pemasok tuna segar terbesar dunia adalah Indonesia. Thailand, bahkan mendapatkan bahan baku untuk industri pengalengannya dari Indonesia!

Sebagai siswa sekolah dasar, kita semua pasti hafal, kapan kita berkenalan dengan jargon kelautan Indonesia: sebagai potensi geopolitis “terletak di antara dua benua dan dua samudera”. Tapi, berhenti sampai di situ. Kita tidak tahu bahwa posisi geopolitis itu menyebabkan Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, (menurut buku Worldfact) atau keempat menurut World Resources Institute.

IMG_5350

Garis pantai sepanjang itu menyebabkan Indonesia rawan penetrasi asing, karena potensinya sebagai basis pertahanan atau spionase. Arus Samudera yang saling berpapasan di perairan Indonesia juga mengakibatkan fenomena upwelling. Fenomena gerakan arus dingin dari samudera dalam, yang membawa jutaan plankton yang menarik ikan pemangsa, membanjiri laut dengan makanan super-gizi.  Benturan arus dan tenaga gelombang, yang melimpah di sepanjang Sumatera dan Jawa, dua pulau besar yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, juga dapat dikonversi menjadi tenaga listrik.

Menurut artikel yang dilansir situs Acehoceancoral.org, garis pantai Propinsi Aceh adalah 1660 km. Dari jumlah tersebut, 800 km mengalami kerusakan pada gempuran gempa dan tsunami 26 Desember 2004.  Namun, itu berarti Aceh masih memiliki 800 km garis pantai yang utuh. Terutama, di pantai Barat-Selatan, yang relatif tidak diremukkan gelombang raksasa tersebut. Padahal, masih menurut Acehoceancoral.org, pantai Barat-Selatan menyimpan potensi budidaya flora dan fauna serta terumbu karang yang kaya.

Dalam tahun 2000 saja, negara kepulauan kecil mungil di Samudera Hindia, Seychelles, dengan garis pantai yang hanya 480 km, memiliki pendapatan per kapita sebesar USD 7.700. Negara ini hanya mengandalkan pariwisata, tapi nilai tukar mata uangnya lebih kuat daripada rupiah.  Aceh Barat Daya memiliki perairan laut seluas ± 324,09km², dengan angka 73,7 km untuk garis pantai, Laut Teritorial Kabupaten seluas ± 53,23 km²  , dan Potensi lestari Sumber Daya Perikanan Laut sebesar 12.755,94 (pada tahun 2012) .

Komoditas hasil tangkapan perairan Abdya antara lain: Tuna, Tongkol, Madidihang, Cucut, Kembung, Kuwe (Rambe), Kakap Merah, Tenggiri, Kerapu, Selar dan lain-lain. Ikan-ikan ini semuanya bernilai ekonomi tinggi, baik sebagai komoditas segar mau pun olahan. Cukup jelas, dengan menggali potensi bahari daerah, Aceh Barat Daya dapat mendongkrak perekonomian warganya.

Membangkitkan si Putri Tidur
Kawasan pantai barat Sumatera sebelah Utara memiliki potensi kelautan yang baik. Melihat posisinya yang berhadapan dengan laut dalam c.q Samudera Hindia, dapat diduga bahwa di sepanjang garis pantai Aceh terdapat beberapa lokasi upwelling, dimana plankton dari laut dalam terbawa arus laut dan menarik ikan pemakan plankton, yang pada gilirannya akan menarik ikan-ikan pemangsa dari laut pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti cakalang dan tuna sirip biru. Kawasan pantai Barat-Selatan ini memerlukan sentra industri pengolahan hasil tangkapan laut, dan titik ekspor yang memadai.

Secara kasar saja, di kota Blangpidie, sebagian besar rumahtangga lebih memilih untuk mengonsumsi ikan dibandingkan dengan, misalnya, ayam ras. Bahkan untuk kenduri, yang sangat kerap diadakan masyarakat, ikan sisik tetap menjadi pilihan hidangan. Ikan sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat Blangpidie dan Aceh Barat Daya umumnya. Dengan demikian, wajar bila di Kabupaten Aceh Barat Daya harga ikan menjadi pertimbangan dalam mengambil langkah kebijakan ekonomi, sama seperti harga beras, gula, minyak goreng, cabai dan bawang merah.

Karena tersedianya ikan berarti ketenangan bagi ribuan rumahtangga, suplai ikan yang stabil selayaknya menjadi perhatian Pemerintah. Itu berarti penyediaan kemudahan bagi para nelayan: kemudahan untuk melaut, menyimpan hasil tangkapan, menjualnya dengan harga pantas, mengolah dan mengawetkannya untuk kepentingan konsumsi regional dan bahkan ekspor, untuk antisipasi melimpahnya tangkapan.

Keenam kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya memiliki sediaan ikan laut dan ikan air payau yang beragam. Mulai dari teri bilis sampai tuna, jeunara sampai alu-alu bisa ditemukan di sini.

Ikan tuna sirip kuning (madidihang, atau ikan sisik (Thunnus albacares) ) yang populer di pasar-pasar Abdya, adalah ikan pelagis yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional. Kalau selama ini sang ikan pengembara bertubuh bongsor ini hanya bisa ditangkap (liar), kini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah berhasil membudidayakannya. Ikan laut lain yang sudah dapat dibudidayakan dalam jaring apung adalah ikan kuwe rambe. Sebagaimana kita ketahui, ikan ini populer di pasaran, dan harga jualnya pun tinggi. Dengan adanya pergeseran trend global, dari konsumsi protein darat menjadi protein laut, jelas akan besar nilainya bila Aceh Barat Daya memiliki sentra budidaya dan pengolahan produk laut, terutama ikan. Negara-negara Eropa terutama Skandinavia masih meminta pasokan tuna, yang selama ini dipenuhi Thailand dan Vietnam.

Hasil laut Abdya lain yang menarik untuk dikembangkan adalah ikan selar kuning, Selaroides leptolepis (bahasa Aceh eungkot lang). Daging ikan ini, dalam bentuk pasta daging lumat, diminati pasar internasional sebagai surimi (bahasa Jepang yang berarti daging lumat), dan diperdagangkan sebagai daging kepiting sintetis. Surimi juga merupakan bahan dasar kerupuk, otak-otak, berbagai makanan beku siap saji seperti fish sticks, crab sticks dan sebagainya.

Laut Abdya terutama di Kecamatan Susoh juga dihuni tenggiri (Scomberomorus, Sp), dagingnya yang gurih terkenal sedap dan beraroma kuat, sehingga memberi rasa yang istimewa pada penganan laut olahan, seperti kerupuk, dimsum (siomay), batagor (bakso tahu goreng), bakso dan sebagainya. Berkaca pada keberhasilan Kota Bandung menjadi sentra wisata agro dan kuliner, Aceh Barat Daya dapat mengembangkan pariwisata dengan menyediakan tempat bagi jajanan pangan laut olahan, yang bisa dinikmati selagi berwisata bahari. Kalau Bandung, kota pegunungan yang berjarak 500 km dari laut, sanggup menjadikan siomay dan batagor sebagai oleh-oleh khas yang sangat digemari wisatawan, akan aneh sekali kalau Blangpidie tidak bisa.

Selain untuk menopang pariwisata, sentra pengolahan (cq pengalengan) ikan akan menyerap panen ikan yang berlebih, juga menyediakan lapangan kerja. Budidaya akan menjamin stabilitas harga dan pasokan ikan (sehingga ibu-ibu tidak akan menjerit lagi bila musim Barat tiba dan ikan menghilang dari pasar).  Menilik luasnya laut Abdya, yang hampir seratus persen belum digarap sebagai lahan budidaya, dan menimbang permintaan konsumen terhadap ikan laut yang lebih tinggi daripada untuk ikan darat, maka budidaya ikan dalam jaring apung merupakan alternatif pengembangan yang baik.

Pembiakan ikan kuwe, misalnya, yang membutuhkan air jernih berkarang, dapat dilakukan di sekitar perairan Pulau Gosong atau kawasan yang patut lainnya. Ikan madidihang memerlukan perairan yang lebih dalam, dapat digembalakan di sekitar Tangan-tangan, Lembah Sabil. Karena masing-masing  jenis ikan memiliki usia kematangan/masa panen sendiri, efisiensi dapat dijaga dengan memelihara beberapa jenis ikan dalam dua-tiga KJA (Keramba Jaring Apung). Dengan demikian produksi ikan tetap ajek (stabil).

Yang juga perlu diperhatikan dan dijaga adalah kualitas ikan serta produk olahannya. Negara pengimpor, misalnya Jepang dan Norwegia, menuntut produk yang bersih, seragam ukurannya, dan dikemas sesuai standar kesehatan. Dalam hal ini Jepang terkenal teliti dan ketat, dimana perbedaan warna atau ukuran sedikit saja antara produk yang satu dengan yang lain dapat menyebabkan komoditi tersebut gagal masuk. Ini membuahkan tantangan lain lagi bagi industri hasil laut Aceh: peningkatan kontrol serta higienis di tingkat produksi.

Membangkitkan si Putri Tidur, tampaknya bukan hal yang mudah, karena si cantik ini telah terlalu lama terlelap. Tetapi dengan tekad kuat untuk merubah nasib, ditambah kerja keras dan keyakinan, cepat atau lambat pasti akan membuahkan hasil. Salam jalesveva jayamahe, salam di laut kita jaya. [ ]

*Dian Guci, adalah seorang ibu, penerjemah dan penulis yang mukim di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Pernah menjadi guru dan wakil kepala SMU bidang kesiswaan di Depok, Jawa Barat. E-mail: dian.maidera.guci@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Sensus Kelar, Saatnya Verifikasi

“Petugas Kami, Cukup Teliti”