in

“Petugas Kami, Cukup Teliti”

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Barat Daya, Jasman. (SIGUPAI/Nasruddin Oos)

AULA kantor camat Kuala Batee, Aceh Barat Daya, Selasa 25 Februari 2013, dipenuhi puluhan aparatur dari 22 gampong. Mereka datang untuk mengajukan usul dalam Musyawarah Rencana Pembangunan atau Musrenbang tingkat kecamatan.

Di tengah kesibukan Musrenbang, di samping aula terlihat seorang pria berseragam Pegawai Negeri Sipil dikerumuni beberapa perangkat gampong. Ia Jasman, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Barat Daya.

Jasman sedang memverifikasi data penerima santunan untuk anak yatim dan fakir miskin. “Saya sengaja datang ke sini untuk memverifikasi langsung data dari gampong, karena beberapa ada yang salah tulis,” ujarnya.

Ia memperlihatkan form dokumen berisi kategori penerima santunan dari Pemerintah Aceh Barat Daya pada 2014. “Tahun ini, jumlah bantuan untuk anak yatim lebih besar, seratus ribu rupiah per orang untuk sebulan,” ujarnya. Tahun lalu, nilai itu diberikan untuk setahun.

Setiap penerima, kata Jasman, menerima santunan yang dikirim lewat rekening masing-masing di Bank Aceh. Jumlah dana diplotkan mencapai Rp6,5 miliar dari APBK Aceh Barat Daya. Program ini dimulai sejak Januari 2014. “Ini salah satu bentuk komitmen Bupati Jufri dan wakil bupati membantu masyarakat Aceh Barat Daya sesuai dengan visi misi mereka memimpin kabupaten ini,” ujar Jasman. Apa saja yang dilakukan Pemerintah Aceh Barat Daya melalui Dinas Sosial lewat program kesejahteraan rakyat? Berikut petikan wawancara dengan mantan cekgu ini:

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Barat Daya, Jasman. (SIGUPAI/Nasruddin Oos)
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Barat Daya, Jasman. (SIGUPAI/Nasruddin Oos)

Siapa saja yang menerima santunan dari Pemerintah Aceh Barat Daya lewat?

Anak yatim dan piatu umur dari satu hari hingga 19 tahun, janda tanpa anak, kepala keluarga sakit menahun, serta cacat fisik maupun mental. Setiap bulan masing-masing penerima itu akan menerima Rp100 ribu lewat rekening mereka. Bila dalam satu keluarga ada lima anak yatim, mereka masing-masing Rp100 ribu. Ini santunan khusus untuk anak Aceh Barat Daya dan dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK). Misalnya, anak Aceh Barat Daya kategori yatim belajar di pesantren di Lhokseumawe, tetap masuk sebagai penerima santunan. Sebaliknya, ada anak dari kabupaten lain yang sekolah di sini, itu tidak masuk sebagai penerima.

Berapa dana untuk program itu?

Dana yang dicadangkan lebih kurang Rp6,5 miliar dari APBK dan sudah masuk ke DIPA. Nanti akan dibuat baliho di setiap desa berisi komitmen Pemda untuk membantu para penerima santan sesuai kategori yang saya sebutkan tadi.

Anggaran ini tidak bisa ditambah lagi apalagi dikurangi. Itu sudah disepakati lewat pembahasan di DPRK. Untuk 2015 nanti lain lagi apakah nominalnya ditambah tentu harus lewat pembahasan lagi misalnya jika ada yang mengusulkan dalam Musrenbang.

Kalau misalnya ada meminta untuk ditambahkan, saya pikir, layak atau tidak, kehidupan ini memang tak pernah cukup. Namun inilah kepedulian pemerintah dan luar biasa penambahan nominalnya. Dulu hanya sekitar Rp300 juta per tahun. Apakah kita tidak mau bersyukur terhadap hal ini?

Bagaimana proses mengumpulkan data para penerima santunan?

Data ini dari berbagai kalangan kita input seperti kepala desa, kepala dusun, perangkat desa, atau Lembaga Swadaya Masyarakat maupun mahasiswa seperti Sarjana Pendamping Gampong.

Dinas Sosial lalu memverifikasi semua data itu. Tujuan menerima data dari berbagai kalangan itu juga untuk melihat jika ada yang luput. Pendataan dimulai sejak November 2013.

Hingga hari ini (Selasa 25 Februari 2014-red), pendataan hampir selesai namun ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Ada janda yang anaknya kerja di Malaysia dimasukkan ke dalam kategori penerima santunan sebagai janda tanpa anak, itu salah.

Sebelumnya, bagaimana program untuk penyantunan anak yatim?

Sekarang luar biasa. Selama ini anak yatim hanya disantuni Rp100 ribu per tahun. Kalau dibagi per hari tidak sampai lima rupiah. Program untuk anak yatim ini sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Pengalaman saat menjadi guru di beberapa sekolah, saya melihat setiap jam istirahat anak yatim sebagian tidak ikut keluar bermain bersama teman-temannya. Ketika saya tanya kenapa mereka menjawab, “Pak, saya tidak tega melihat teman saya di kantin. Lebih baik saya di dalam kelas saja karena tidak punya uang.” Saat hal itu saya ceritakan kepada Bupati Jufri, beliau terharu. Karena itulah, beliau setuju menyantuni Rp100 ribu per bulan, berbanding terbalik dengan nominal sebelumnya. Dulu, umurnya 15 tahun ke bawah untuk usia SMP. Lalu, bagaimana dengan yang SMA?

Bagaimana proses pembuatan rekening untuk penerima santunan?

Saat data dari Dinas Sosial sudah dimasukkan semua, lalu dikirim ke Bank Aceh. Selanjutnya pembuatan rekening dilakukan dengan cara petugas datang membawa buku tabungan untuk diteken oleh penerima santunan. Jadi penerima santunan di Kuala Batee misalnya tak perlu repot harus datang ke Bank Aceh di Blangpidie untuk membuat rekening, cukup datang ke Babahrot. Ini untuk mempersingkat urusan administrasi.

Bila persoalannya tidak ada kartu keluarga, kepala desa cukup membuat surat keterangan walaupun dengan tulisan tangan tapi ada cap desa. Di situ dinyatakan yang bersangkutan benar warga desa itu dan ia termasuk dalam kategori penerima santunan. Saya pikir itu sudah sangat bagus. Walaupun ada salah sedikit maklumlah kita manusia dan itu kita perbaiki sembari berjalannya program.

Apa kendala saat mendata penerima bantuan?

Program ini sebenarnya sudah disosialisasikan sejak November hingga Desember 2013. Kami rawon mulai dari Lembah Sabil hingga Babahrot. Namun hingga pendataan tetap ada kesalahan-kesalahan.

Persoalannya pada memahami yang mana janda tanpa anak, kepala keluarga sakit menahun dan orang cacat. Kalau anak yatim dan piatu itu tidak ada kendala. Seperti bila ada janda yang kawin lagi, apakah anaknya itu masuk dalam kategori yatim? Tentu saja ya, si anak digolongkan sebagai yatim.

Lain lagi misalnya kepala keluarga yang sakit menahun, ada aparatur gampong yang memahami itu anak yang sakit menahun, itu tidak boleh. Kalau anaknya sakit menahun kepala keluarga masih bisa mencari nafkah, tak layak menerima santunan. Sakit menahun ini bisa bermacam-macam seperti lepra, lumpuh, jantung, dan lain-lain. Tidak boleh kepala keluarga yang baru sakit dua bulan.

Makanya, setelah menerima data saya kembali cek dan ricek. Ini sudah ketiga kali saya lakukan. Jadi, ketika ada momen seperti Musrenbang ini saya sengaja datang untuk memverifikasi data. Kan tidak efektif juga jika sebentar-sebentar harus mengadakan rapat, kasihan warganya.

Saya juga lakukan verifikasi lewat telepon. Bila ada data meragukan saya telepon kepala dusun atau tokoh-tokoh masyarakat di gampong itu. Bila data itu salah saya kembalikan lagi kepada keuchik. Semakin bagus cek dan ricek ini bakal kian minim manipulasi data.

Apa yang diharapkan lewat program santunan ini?

Sesuai visi dan misi Bupati serta Wakil Bupati Aceh Barat Daya untuk membawa masyarakat ke arah islami, sejahtera, dan mandiri, berbasis kearifan lokal. Mandiri maknanya, semua orang harus mandiri termasuk anak yatim, piatu, orang cacat, maupun janda tanpa anak. Sementara islami juga untuk semua lini seperti pengajian untuk PNS dan bantuan santunan tersebut. Program Pak Bupati ini mendapat sambutan antusias masyarakat Aceh Barat Daya.

Apa program lain yang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat Aceh Barat Daya?

Ada Program Keluarga Harapan (PKH). Ini bantuan dari Kementerian Sosial RI dari pusat. Sasarannya pendidikan anak maksimal umur 15 tahun. Selain itu kesehatan bayi sejak dalam kandungan dan ibu hamil juga masuk dalam PKH. Bantuan ini untuk keluarga miskin tidak boleh bagi orang kaya.

Bagaimana cara mengukur miskin atau kayanya sebuah keluarga?

Di Aceh, banyak rumah bantuan itu atapnya seng dan lantainya keramik. Bila dilihat bentuk rumah keluarga itu memang tak layak menerima. Namun saat menilik pendapatannya, kepala keluarga tersebut dan istrinya bekerja serabutan. Maka, saat melihat rumah tersebut dari jauh, petugas Dinas Sosial tetap melihat isinya di dalam. Bahkan, petugas juga menanyakan soal pendapatan itu ke tetangga. Apakah benar empunya rumah bekerja serabutan dan punya pendapatan tak tetap?

Sebaliknya, bila kita lihat rumah beratap rumbia dan lantai semen kasar. Jangan dulu disebut orang miskin sementara pemilik rumah itu memiliki kerbau hingga 20 ekor dan kebunnya hektaran serta menghasilkan semua. Dinas Sosial tidak mau terjebak ke dalam hal seperti itu saat mendata. Kita harus masuk ke substansinya. Petugas kami cukup teliti untuk hal ini.

Selain program-program itu, apa lagi yang dikerjakan Dinas Sosial dalam menyukseskan visi misi Bupati Aceh Barat Daya?

Kami ada tiga item yaitu sosial, tenaga kerja, dan transmigrasi. Di bidang tenaga kerja ada Balai Latihan Kerja. Pada 2013 pernah ada latihan menjahit bagi perempuan korban konflik atau pengangguran. Lalu ada pelatihan komputer yang dibantu Pemerintah Pusat.

Dinas Sosial juga memiliki tempat pemulihan untuk orang yang memiliki masalah kejiwaan, rumah singgah namanya. Selain itu ada Forum Komunikasi Pekerja Masyarakat. Forum itu urusannya ketika ada orang sakit jiwa diambil lalu dibawa ke rumah sakit jiwa di Meulaboh atau Banda Aceh. Setelah dinyatakan sembuh oleh rumah sakit jiwa lalu kami jemput dan bawa pulang ke rumahnya. Hanya satu hari saja di rumah, lalu orang itu kami bawa ke rumah singgah. Pengalaman kami sebelumnya, bila pasien yang sudah sembuh ini lama di rumahnya sendiri akan kambuh lagi. Sebagian orang tua tidak tahu cara memperlakukan anak atau saudaranya yang sakit jiwa. Setelah berada di rumah singgah dia diajarkan beberapa keterampilan sesuai kemauan orang itu.

Hal yang paling terasa dibandingkan dulu dan sekarang ya adanya pelatihan-pelatihan seperti itu untuk pemberdayaan manusia. Dulu tidak, kebanyakan yang diusulkan dalam Musrenbang itu pembangunan jalan dan jembatan. Padahal, jika seseorang itu sudah pintar, pergi ke mana pun ia bisa tetap hidup mengandalkan ilmu dan ketrampilannya.[] RZ

One Comment

Leave a Reply
  1. Hey Rosie/Chris It’s a long exposure, tripod shot. The &#0a28;st2rs” were made using hand-held speedlights although the top “star” is actually the moon

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pesisir dan Laut Abdya: Gadis Cantik yang Tersia?

Besok, Diskusi Sejarah Lahirnya Aceh Barat Daya