Oleh: Dian Guci *)

Beberapa bulan terakhir ini media massa penuh dengan berita kasus perkosaan pada anak. Kasus yang paling mendapat sorotan luas adalah rudapaksa pada siswa Taman Kanak-kanak Jakarta International School. Perhatian internasional terfokus pada JIS karena kasus itu terjadi justru di dalam lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya aman bagi anak-anak.

Peristiwa JIS seolah menjadi kunci pembuka, belasan bahkan puluhan kasus serupa terungkap di mana-mana di seluruh Indonesia. Bahkan, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen Suhardi Alius, menyampaikan bahwa dalam pertemuannya dengan petugas FBI (Federal Bureau of Investigations, Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat) dan Interpol, terungkap bahwa jumlah kasus pedofilia di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia.

Namun kebiadaban ini tak mendapat penanganan yang seharusnya. Hukuman bagi pelaku kekerasan seksual pada anak di Indonesia cuma kurungan 3-15 tahun saja. Seorang bangsa asing yang mencabuli 12 anak di Bali hanya terkena vonis 9 bulan. Pria asing lainnya mendapat 3 tahun. Ironis, entengnya.  Padahal jiwa, tubuh dan masa depan korban telah dirusak untuk selamanya.

Dalam Laporan Khusus Majalah Tempo No. 4310/5-11 Mei 2014, ada kutipan pernyataan Australian Federal Police bahwa pada 2011 saja minimal ada 1.194 pelaku kekerasan seksual yang sudah dipidana di Australia datang ke Indonesia. Committee Against Sexual Abuse (CASA), sebuah LSM anti kekerasan seksual di Bali mengungkap bahwa modus operandi pencabul anak adalah menyewa vila mewah terpencil dan membawa korban ke sana, sehingga aksi bejatnya sulit terendus. Sekretaris CASA, Cokorda Bagus Jaya Lesmana menambahkan info menyeramkan, bahwa para pedofil ini memiliki milis dan situs sendiri.

Total horror. Bagaimana mungkin negara dengan penduduk Muslim tertinggi di dunia bisa memiliki angka pencabulan anak tertinggi di Asia? Apa yang salah di sini? Mengapa mata kita seakan ditutup?

Berdasarkan keprihatinan mendalam akan munculnya fenomena inilah Balai Syura Ureung Inong Aceh Barat Daya memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah tentang apa itu pelecehan seksual, bagaimana melindungi diri darinya dan apa yang harus dilakukan bila mengalaminya. Memberi anak pengetahuan yang cukup tentang tubuhnya adalah modal awal membentenginya dari predator seksual.

Empat zona lampu merah

Balai Syura Ureung Inong Abdya dibentuk pada Juni 2014 dan merupakan “anak sungai” dari Balai Syura Ureung Inong Aceh yang berkedudukan di Banda Aceh. Diketuai oleh Dhien Fitriani Meutia, lembaga ini memfokuskan kegiatannya pada hak dan kepentingan perempuan serta anak-anak.

Penyuluhan ke sekolah-sekolah adalah agenda pertama Balai Syura Ureung Inong Abdya (seterusnya akan disebut Balai Syura saja), dan usaha nyata memerangi maraknya kejahatan seksual pada anak.

Balai Syura memulai penyuluhan dengan menayangkan film kartun tentang anak korban pedofilia. Film cerita itu menggambarkan siasat pertemanan, modus operandi favorit pedofilia. Film ini diikuti diskusi dan tutorial, tentang bagaimana menyikapi pedofilia.

Kiat menangkal kejahatan seksual sebenarnya cukup sederhana. Pertama, membangun citra diri yang tepat. Sikap kita pada kelamin umumnya ambigu. Di satu sisi menabukan, di sisi lain memberikan julukan aneh-aneh yang menghinakan.  Tidak ada yang salah tentang alat kelamin, dan sangat perlu menanamkan sikap positif, bahwa bagian tubuh tersebut bagus, indah, harus dijaga kebersihan dan keutuhannya. Yang kedua, anak perlu tahu zona mana saja dari tubuhnya yang merupakan zona pribadi. Yang ketiga, mengetahui tindakan yang harus diambil seandainya ia mengalami pelecehan.

Ketika mengajarkan tentang aurat, kenalkan anak pada empat zona sakral tubuhnya. Yaitu mulut, dada, bagian di antara kedua paha (selangkangan), dan pantat. Sebutkan istilah yang benar, hindari memberi nama-nama lucu, apalagi menyebutnya sambil cekikikan. Ini bisa memberi gambaran salah pada anak, seolah kelaminnya itu hal remeh yang menggelikan.

Beritahu mengapa bagian tersebut tidak boleh dilihat, apalagi disentuh orang lain. Sejak balita anak sudah bisa diajari istinja sendiri. Lengkapi dengan kebiasaan baik mencuci tangan menggunakan sabun. Jangan remehkan kecerdasan anak, meski pun usianya masih muda mereka dapat mengerti dengan baik.

Latih anak agar mampu menjaga diri

Setelah mengajarkan empat zona pribadi, ajarkan cara mengenali gejala pelecehan. Ada dua jenis sentuhan yang harus diketahui anak. Satu, sentuhan baik. Dan dua, sentuhan jahat. Secara sederhana, perbedaan antara sentuhan baik dan sentuhan jahat dapat dirasakan. Ajarkan bahwa bila anak merasa tidak nyaman, takut atau jijik ketika disentuh, itu adalah sentuhan jahat.

Bila anak sudah mengerti beda antara kedua jenis sentuhan itu, langkah berikutnya adalah mengajarkan cara membentengi diri. Ajarkan dia berteriak dan melawan sekuat-kuatnya bila mendapat sentuhan jahat. Bila ketakutan, meneriakkan nama orang yang dipercaya, misalnya Bunda atau Mamak adalah reaksi awal. Tambahkan kata “tolong” setelahnya. Bela diri paling efektif adalah menggigit. Ajarkan anak untuk menggigit jari orang yang mencoba menyerangnya. Jari adalah bagian yang penuh syaraf perasa. Sekuat apa pun orang itu, bila jari yang digigit ia pasti melepaskan pegangannya. Lagipula, menggigit jari mudah dilakukan seandainya anak dibekap mulutnya menggunakan tangan.

Terakhir, imbauan bagi para orang tua, saat memandikan dan mendandani anak, jangan lupa untuk selalu membaca doa dan ayat suci. Membaca doa ketika mengenakan pakaian merupakan sunnah Rasulullah SAW. Kita berhutang bekal hidup terbaik pada pada anak-anak kita. [ ]

*) Dian Guci, adalah seorang ibu, penerjemah dan penulis yang mukim di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Pernah menjadi guru dan wakil kepala SMU bidang kesiswaan di Depok, Jawa Barat. E-mail: dian.maidera.guci@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.