Bagi kita, Sigupai bukan sekedar varietas unggul lokal. Ikon Aceh Barat Daya itu menggoda, bahkan menusuk-nusuk sanubari dan alam pikir kita. Ada yang tertatih-tatih berupaya memurnikan wanginya, mengembalikan pulennya dan dari sana berharap menemukan kunci-kunci ajaib untuk masa datang yang lebih bermartabat.

Sigupai telah menyihir ego dan alam sadar kita. Keyakinan membuncah. Kita harus temukan potensi kekayaan lama yang hilang berpuluh-puluh tahun lamanya. Para ahli padi di masa lalu telah menyerahkan Sigupai ke wilayah imajinasi. Kita berusaha menampiknya dan tetap kukuh menganggap Sigupai eksis.

Padahal, bukan hanya Sigupai yang telah raib. Negeri ini pernah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para entrepreneur sukses, para toke, bahkan yang berasal dari mukim-mukim tetangga. Sebagai bandar yang menjadi tanah harapan para calon saudagar dari belahan timur dan utara, tiga puluh, empatpuluhan tahun lalu, negeri Sigupai telah disulap menjadi tanah air mental para pemimpi, perencana masa datang.

Faktanya, penghargaan diberikan pada penikmat jabatan dan pemilik kekuasaan. Meski reformasi birokrasi menyorong prinsip egaliter atau kesamaan yang kental. Harga tinggi juga diberi pada pemilik gelar pendidikan tinggi, meski tak cukup sahih mengurai secara runtut impian-impian mereka secara patut. Pemegang kapital dan ekonomi rente dipuja, sementara syariat ditinggal dalam simbol-simbol, yang kadang tak lagi erat digenggam.
Segregasi, pemilahan sosial kian mengerucut dalam kelompok-kelompok kepentingan elit.

Seolah kita bersepakat untuk tak perlu lagi ada panutan. Seakan, tak ada lagi khilafiah agar secara berjamaah bersedia menghina akal sehat.

Padahal kitab-kitab tua dan celoteh leluhur, mematri erat segi kejujuran dan perilaku  adil, sejak dari pikiran. Kini, kerap didendangkan di podium dan mimbar yang harusnya sakral dari niat tersembunyi pemilik kata-kata, para penafsir resmi kebenaran.

Bila datang dari luar, selalu kita nyatakan sebagai anasir asing dan harus ditampik, wajib diragukan kesahihannya. Dalam kondisi semacam itulah Sigupai hadir. Kita berupaya mengumpulkan sesuatu yang hilang di masa lalu, menata komunikasi antarpemangku kepentingan, agar anak dan cucu tak menyatakan masa kini sebagai wilayah ingatan kelam, yang patut dikecam serta dilupakan.

Kita yakin, sungguh berharga mengembalikan spirit Sigupai ke masa kini. Karena Sigupai merupakan capaian terbaik leluhur. Andaikan dulu para tetua bersedia mewariskan catatan, meneruskan komunikasi kepada kita, memurnikan Sigupai bukanlah sesuatu yang absurd, bukan sesuatu yang tak mungkin.

Dengan media ini kita persempit jarak kata, hati dan pemikiran. Kita samakan sudut pandang. Lalu, kotak-kotak kepentingan yang saling menegasikan, kita simpan di gudang tua. Sigupai, dapat pula kita jadikan penaut rencana aksi untuk masa datang warga dan kabupaten yang patut kita banggakan.

Mari tunaikan hasrat menggelegak yang ada dalam diri masing-masing kita untuk dapat sedikit berguna, bagi warga, bagi negeri Sigupai agar impian-impian terbaik menjadi nyata di depan kita. Insya Allah. Tabek ! [NM]