in

Yenni Elviza: “Biasakan Anak Ucapkan Salam”

ACEH Barat Daya sedang mengupayakan agar dapat ditetapkan sebagai salah satu Kabupaten Layak Anak di Indonesia. Program ini sesuai Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2011.

Untuk menjadi Kabupaten Layak Anak, Aceh Barat Daya harus memenuhi beberapa syarat. Salah satunya, mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah.

Pemerintah Aceh Barat Daya kini harus memikirkan Rencana Aksi Daerah Kabupaten Layak Anak. Rencana ini berbentuk dokumen yang memuat program atau kegiatan secara terintegrasi untuk menjamin terpenuhinya hak anak.

Sebelum gagasan Kabupaten Layak Anak diterapkan, di Aceh Barat Daya kepedulian pemerintah terhadap anak mulai tumbuh walau belum secara masif. Salah satunya, lewat kiprah Yenni Elviza dengan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Bahkan, istri Bupati Aceh Barat Daya Jufri Hasanuddin ini, akhir September lalu didapuk sebagai juara pertama Bunda PAUD Tingkat Aceh. Lewat penghargaan ini, Yenni juga menjadi Duta Aceh dalam Apresiasi Bunda PAUD Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013. Apresiasi ini digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, November 2013.

Keberhasilan ini tak terlepas dari kerja keras dan kegigihan Yenni memajukan PAUD di Aceh Barat Daya. Anak usia dini terus diupayakan mendapat pendidikan secara patut. Kini, gelar Bunda PAUD yang disandang Yenni seperti sinkron dengan konsep Kabupaten Layak Anak yang menjadi program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Di mata Yenni, peran keluarga sangat besar dalam membentuk karakter anak hingga dewasa. Anak, kata dia, meningkat cepat kecerdasannya jika diasuh dengan baik. Apa saja pandangan Yenny tentang Kabupaten Layak Anak? SIGUPAI berkesempatan mewawancarai ibu empat anak ini usai acara sosialisasi Kabupaten Layak Anak di Khana Pakat Guest House, 26 November 2013. Berikut petikan wawancaranya:

Apa pendapat Anda tentang konsep Kabupaten Layak Anak di Aceh Barat Daya?

Perhatian terhadap anak-anak sekarang sudah luar biasa. Bukan hanya dari Kementerian. Sampai-sampai, istri Presiden pun sudah ditetapkan sebagai Bunda PAUD Indonesia. Selain itu mulai dari ibu camat, ibu bupati, dan lainnya semua dilibatkan. Tentu saja tujuan akhirnya karena kita ingin anak-anak Indonesia ke depan menjadi lebih baik.

Jika melihat usia anak, di Aceh Barat Daya umur 18 tahun itu otomatis tingkat pendidikannya SMA ke bawah. Jadi alangkah lebih baik, kalau kita mulai dari sekolah. Kita libatkan anak-anak mulai dari hal terkecil seperti memberi salam.

Contohnya, di SMA Modal Bangsa, Aceh Besar. Kebetulan, anak saya bersekolah di sana. Di sana siswa diwajibkan ketika bertemu kakak kelas, wali murid, dan guru, wajib memberi salam. Jadi kebiasaan di sekolah itu akan terbawa ke rumah. Sehingga, begitu si anak pulang ke rumah, ketika keluar dia pamit dengan orang tuanya dan mengucapkan Assalamualaikum, karena telah terbiasa di sekolahnya.

Pertama-tama memang agak berat karena semua orang yang ditemui di jalan itu harus kita berikan salam. Tetapi kalau kita coba mulai dari sekolah ini sungguh sangat baik. Kalau kita biasakan pasti akan terbawa sampai ke rumah.

Tantangan apa yang Anda nilai cukup signifikan, untuk menjadikan Aceh Barat Daya sebagai kabupaten layak anak (KLA)?

Kendala ada di mana-mana. Alhamdulillah, kendala kita di sini tidak terlalu parah. Misalnya, kenakalan remaja, tawuran, tidaklah separah kota-kota lain di negeri ini.

Tantangan yang berarti belum terlihat. Kita baru saja akan memulai sosialisasi Kabupaten Layak Anak tersebut. Kita merencanakan satu kecamatan ada dua desa yang menjadi bagian program ini. Tentu, partisipasi masyarakat sangat kita butuhkan.

Berbicara Kabupaten Layak Anak, apa kebiasaan-kebiasaan baik yang memang ada di Aceh Barat Daya?

Kalau kita lihat kebiasaan sehari-hari di sini, anak-anak memang dibiasakan untuk berlaku sesuai ajaran agama kita, Islam. Seperti, cara menghargai sesama dan menghormati orang yang lebih tua. Hal-hal seperti itu memang ada konsepnya dalam agama kita. Anak-anak dianjurkan memberi salam saat bertemu orang lain, bahkan yang lebih tua dari dirinya. Arti dari salam ini itu kan baik, mendoakan keselamatan.

Namun, sebagian besar kebiasaan seperti itu memang mulai agak pudar. Artinya, hal ini harus diterapkan kembali di dalam setiap keluarga di Aceh Barat Daya. Sebelum pergi kantor misalnya, si Ayah memanggil anak-anaknya untuk bersalaman dan mencium tangannya. Saat keluar dan masuk rumah, siapa pun baik Ayah, Ibu, maupun anak harus memberikan salam, Assalamualaikum. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini yang harus diterapkan. Kalau kebiasaan baik sejak dari keluarga tidak dilakukan, maka ketika anak-anak berada di luar rumah tentu ia akan enggan melakukan hal itu.

Di keluarga Anda tentu sudah melakukan itu, bisa diceritakan seperti apa?

Kami di dalam keluarga sebelum Bapak jadi bupati pun sudah menumbuhkan kebiasaan memberi salam. Bapak sebelum berangkat kerja, anak-anak harus bersalaman dulu. Anak tertua saya sekolah di SMA Modal Bangsa di Banda Aceh. Di sekolah itu diterapkan, siswa wajib memberi salam setiap bertemu dengan kakak kelas atau wali murid. Nah, kita yang masuk ke sekolah pun wajib menjawab salam. Jadi, hal ini ketika di rumah sudah terbiasa dilakukan. Hal yang baik ini memang harus dicontoh. Kalau karakter anak sudah terbentuk itu saat dia dewasa tidak sulit hal tersebut dilakukan.

Kami di keluarga juga membiasakan minta maaf. Siapa yang merasa dirinya salah harus meminta maaf. Jadi kalau adiknya bersalah harus meminta maaf kepada si kakak. Kalau kakaknya tak mau memaafkan, nanti kita ajarkan untuk mau memaafkan. Kalau nggak nanti kakaknya yang berdosa. Jadi hal-hal seperti ini memang harus kita jaga dalam keluarga.

Di keluarga, siapa lebih besar peran Anda dengan suami?

Kita saling mengisi untuk anak-anak. Ya, walaupun Bapak kadang-kadang sibuk kerja, tapi beliau tidak pernah lupa menanyakan soal tugas sekolah anak-anak. Walau pun sibuk beliau selalu tanya, supaya nanti kalau berangkat sekolah anak-anak jangan lupa. Anak saya paling bungsu di Taman Kanak-Kanak, kakak yang di atasnya sudah kelas satu Sekolah Dasar.

Kakaknya sudah tahu melihat jadwal pelajaran di sekolah. Si adiknya ikut-ikutan. Kalau kakaknya belajar, si adik juga ikut belajar. Makanya kalau kita beli buku, adik dan kakak harus ada. Begitu juga saat beli baju, karena umur keduanya berdekatan.

Katanya, ketika setelah menjabat sebagai bupati pun, suami Anda tak lupa membelikan keperluan anak-anak, dan itu dilakukan sendiri?

Ya, memang karena setiap Bapak pulang dari luar kota, anak-anak selalu minta oleh-oleh. Kadang-kadang beli sendiri. Kadang-kadang Bapak menelepon anaknya dan menanyakan mau dibelikan apa. Anak-anak nggak perlu barang yang mahal.

Apakah pernah anak-anak meminta waktu untuk jalan-jalan khusus keluarga?

Jalan-jalan ada, ini baru dibawa pulang dari Jakarta. Kalau anak paling kecil minta Bapak tetap menuruti. Bahkan Bapak nggak pernah marah sama anak-anaknya. Ketika sudah tertidur lalu anak-anak bangunin dan bertanya Bapak tetap berusaha menjawab apa yang ditanyakan.

Anda sering memuji anak-anak?

Tentu. Anak juga mesti sering dipuji di saat yang tepat, agar bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Nanti, ketika tiba saatnya dia tampil di depan publik, anak akan lebih berani menunjukkan hal positif yang ada dalam dirinya.

Bagaimana sosok Jufri Hasanuddin sebagai suami?

Orangnya baik dan sangat perhatian sama keluarga. Otomatis, ya, bagi saya lebih dari segala-galanya. Walaupun sibuk seperti sekarang karena tuntutan pekerjaan, tapi perhatian terhadap keluarga tidak pernah berkurang. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Obama bakal bertemu Dalai Lama

Temukan Potensi Mandiri