Siswi mungil yang berkacamata itu mengangkat tangan. “Apa yang dimaksud dengan konflik satwa, Pak?” Mendengar pertanyaan tersebut, laki-laki berkemeja khaki yang berdiri di depan mengangguk-angguk. “Baik, terima kasih pertanyaannya, dik,” katanya.

“Ada lagi yang lain?” Beberapa tangan teracung.

Lelaki tadi mendengarkan semua pertanyaan yang diajukan. Kemudian menjawabnya satu per satu. Para pelajar yang berkumpul di hadapannya mendengarkan dengan asyik.

“Sebelumnya kami tidak tahu bahwa Gunung Kila tempat kami biasa mandi-mandi adalah wilayah Kawasan Ekosistem Leuser,” ujar salah seorang pelajar menyahuti pertanyaan SIGUPAI.

“Kami hanya tahu bahwa di Gunung Kila hutannya masih lebat dan angker,” pelajar lain cekikikan.

“Kami senang BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie bersama WCS mengadakan kunjungan ke sekolah kami. Kami jadi lebih banyak tahu mengenai alam dan margasatwa Aceh, khususnya Abdya sini,” aku T Aulia, salah satu siswa yang tadi bertanya.

Selanjutnya para pelajar itu berharap BB TNGL Wilayah 1 dan WCS mengadakan acara lain yang berkenaan dengan Kawasan Ekosistem Leuser.

Selama dua hari, Rabu 27 Februari, dan Kamis 28 Februari 2019, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Wilayah 1 Blangpidie didukung WRU (Wildlife Rescue Unit) dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) mengadakan acara Visit to School ke SMAN 9 dan SMAN 6 Aceh Barat Daya.

Kegiatan ini diikuti 120-an siswa dari Kelas X, XI dan XII dari kedua SMA tersebut. Tujuannya adalah memberikan pengetahuan dan penyadartahuan apa dan bagaimana pentingnya menjaga kawasan hutan, ekosistem dan satwa yang dilindungi di dalam kawasan hutan untuk kehidupan mahkluk hidup yang ada di permukaan bumi ini.

“Pemahaman dan pengetahuan tentang ekosistem dan kawasan hutan serta pengelolaannya sangatlah penting disampaikan kepada pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Apalagi mengingat kenyataan bahwa Leuser dan Kawasan Ekosistemnya menyimpan harta karun tak ternilai,” ujar A Suandi Selian, Polhut Pelaksana Lanjutan yang hari itu mewakili Kepala Seksi BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie, Hajidin.

Seraya menyebut bahwa Taman Nasional Gunung Leuser adalah wilayah terakhir dan satu-satunya tempat keempat Satwa Kharismatik Sumatera (gajah, orangutan, harimau dan badak) dapat ditemukan hidup di satu wilayah, A Suandi Selian menegaskan bahwa Leuser dan ekosistemnya memiliki peran luar biasa penting bagi ekosistem bumi. “Kawasan Ekosistem Leuser adalah penyumbang utama oksigen untuk seluruh dunia, disamping hutan Amazon Amerika Selatan,” kata Suandi. “Nilai karbon kawasan ini sangat tinggi. Kerusakan Leuser berarti kerusakan umat manusia.”

Selama ini, BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie bekerja sama dengan beberapa LSM dalam dan luar negeri, adalah ujung tombak perlindungan keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser. Masalah yang dihadapi berkisar pada terbatasnya sarana prasarana yang diberikan kepada BB TNGL. Untuk menjaga kawasan seluas lebih dari 1.000 hektare, para ranger BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie hanya berbekal kelewang dan satu GPS. “Sementara para perambah hutan, pemburu dan pembalak liar kebanyakan bersenjata otomatis,” aku salah satu ranger yang menjadi pembicara dalam acara Visit School, Hema Malini.

“Kami pernah harus lari sipat kuping sejauh hampir setengah kilometer, menghindari kejaran dan tembakan para pembalak liar. Untuk melawan kami tak mampu, karena senjata kami hanya kelewang.”

Perlunya Smart Patrol

A Suandi Selian mengatakan bahwa untuk petugas wilayah Aceh, BB TNGL memang hanya menyediakan senjata berupa kelewang. Hal ini karena Aceh dianggap masih rawan konflik. “Kami membutuhkan sesuatu yang dapat lebih mendukung tugas kami sebagai garda depan pengamanan Leuser dan ekosistemnya. Saat ini, kami mendapat dukungan WCS untuk mengadakan kegiatan Smart Patrol. Itu pun hanya dapat kami lakukan tiga kali dalam dua bulan. Padahal untuk Wilayah 1 Blangpidie ini minimal diperlukan kegiatan Smart Patrol setiap bulan.”

Smart Patrol adalah perjalanan patroli ke wilayah hutan yang menjadi daerah kerja. Ada dua jenis Smart Patrol yang dilaksanakan. Yang pertama waktu pelaksanaannya hanya sepekan. Sementara program satunya dapat berlangsung hingga 15-30 hari. Wilayah hutan yang dimasuki pun berbeda luasnya.

“Untuk Smart Patrol dengan jangka waktu pendek kami hanya “naik” ke daerah yang masih dekat pemukiman penduduk. Itu masih di Kawasan Ekostem Leuser-nya saja,” ujar Suandi. Sementara dalam patroli sebulan mereka menjelajah hingga beberapa puluh kilometer ke dalam kawasan hutan, mendekati wilayah Taman Nasional yang sesungguhnya. Perjalanan seperti ini sangat menguji ketangguhan fisik dan mental para ranger.

Seringkali, medan di TNGL yang masih asli, menantang para ranger dengan ancaman bentang alam yang penuh bahaya maut. Tebing tinggi dan licin misalnya. Atau jurang yang sangat dalam. Belum lagi kemungkinan berpapasan dengan para pemburu liar yang nekat dan dilengkapi senjata canggih, seperti yang sudah disebut di atas.

“Kami masih tetap menjalankan tugas ini karena kecintaan kami pada alam. Pada Leuser khususnya,” imbuh Suandi. “Kita membutuhkan Leuser. Namun Leuser juga membutuhkan komitmen serius dari kita semua.”

“Kerja kami ini masih sedikit, belum banyak yang bisa kami sumbangkan. Harapan kami hanyalah, kiranya pekerjaan kami ini didukung. Bila melihat tayangan tentang para ranger di Afrika atau India, yang di antara peralatan kerjanya bahkan mencakup drone dan berbagai alat canggih untuk penelitian hutan, kami sering ngenes. Harapan kami, suatu saat kami akan memperoleh dukungan seperti itu. Karena Leuser bukan hanya untuk kami. Melainkan untuk umat manusia di seluruh bumi ini,” pungkas Suandi menutup percakapan.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.