Cerita Tentang Ekosistem Leuser untuk Siswa Abdya

0
198
Cerita Tentang Ekosistem Leuser untuk Siswa Abdya
Visit to School ke SMAN 6 Aceh Barat Daya. Foto Istimewa. Foto @Sigupai.com/Dian Guci

~ Kawasan Ekosistem Leuser untuk umat manusia

SISWI mungil berkacamata mengangkat tangan. “Apa yang dimaksud dengan konflik satwa, Pak?” Mendengar pertanyaan tersebut, laki-laki berkemeja khaki yang berdiri di depan mengangguk-angguk. “Baik, terima kasih pertanyaannya, dik,” katanya.

“Ada lagi yang lain?” Beberapa tangan teracung.

Lelaki tadi mendengarkan semua pertanyaan yang diajukan. Kemudian menjawabnya satu per satu. Para pelajar yang berkumpul di hadapannya mendengarkan dengan asyik.

“Sebelumnya kami tidak tahu bahwa Gunung Kila tempat kami biasa mandi-mandi adalah wilayah Kawasan Ekosistem Leuser,” ujar salah seorang pelajar menyahuti pertanyaan sigupai.com.

“Kami hanya tahu bahwa di Gunung Kila hutannya masih lebat dan angker,” pelajar lain cekikikan.

T Aulia, salah satu siswa yang tadi bertanya mengaku senang aparatur Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser atau BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie bersama Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program mengadakan kunjungan ke sekolahnya.

“Kami jadi lebih banyak tahu mengenai alam dan margasatwa Aceh, khususnya Abdya sini.”

Selanjutnya para pelajar itu berharap BB TNGL Wilayah 1 dan WCS mengadakan acara lain yang berkenaan dengan Kawasan Ekosistem Leuser.

Visit to School

Selama dua hari, Rabu hingga Kamis, 27-28 Februari 2019, BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie didukung Wildlife Rescue Unit dari WCS mengadakan ‘Visit to School’ ke SMAN 9 dan SMAN 6 Aceh Barat Daya.

Kegiatan itu diikuti 120-an siswa dari Kelas X, XI dan XII dari kedua SMA. Tujuannya memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kawasan hutan, ekosistem, dan satwa yang dilindungi.

“Pemahaman dan pengetahuan tentang ekosistem dan kawasan hutan serta pengelolaannya sangatlah penting disampaikan kepada pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Apalagi mengingat kenyataan bahwa Kawasan Ekosistem Leuser menyimpan harta karun tak ternilai,” ujar A Suandi Selian, Polhut Pelaksana Lanjutan yang hari itu mewakili Kepala Seksi BB TNGL Wilayah 1 Blangpidie, Hajidin.

Taman Nasional Gunung Leuser, kata Suandia, wilayah terakhir dan satu-satunya tempat hidup empat satwa kharismatik Sumatera yakni gajah, orangutan, harimau, dan badak.

Karena itu, Suandi menegaskan Leuser berperan luar biasa penting bagi ekosistem bumi. “Kawasan Ekosistem Leuser adalah penyumbang utama oksigen untuk seluruh dunia, di samping hutan Amazon Amerika Selatan,” kata Suandi. “Nilai karbon kawasan ini sangat tinggi. Kerusakan Leuser berarti kerusakan umat manusia.”

Selama ini, Balai bekerja sama dengan beberapa LSM dalam dan luar negeri, menjadi ujung tombak perlindungan keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser. Masalah yang dihadapi berkisar pada terbatasnya sarana prasarana yang diberikan kepada Balai.

Untuk menjaga kawasan seluas lebih dari seribu hektare, para ranger hanya berbekal kelewang dan sebuah GPS. “Sementara para perambah hutan, pemburu dan pembalak liar kebanyakan bersenjata otomatis,” ungkap seorang ranger yang menjadi pembicara dalam acara itu, Hema Malini.

“Kami pernah harus lari sipat kuping sejauh hampir setengah kilometer, menghindari kejaran dan tembakan para pembalak liar. Untuk melawan kami tak mampu, karena senjata kami hanya kelewang.”

Perlunya Smart Patrol

Suandi mengatakan untuk petugas wilayah Aceh, Balai memang hanya menyediakan kelewang karena masih dianggap wilayah masih rawan konflik.

“Kami membutuhkan sesuatu yang dapat lebih mendukung tugas kami sebagai garda depan pengamanan Leuser dan ekosistemnya,” ujarnya.

Saat ini, mereka didukung WCS untuk mengadakan smart patrol. “Itu pun hanya dapat kami lakukan tiga kali dalam dua bulan. Padahal untuk Wilayah 1 Blangpidie ini minimal diperlukan smart patrol setiap bulan.”

Smart patrol adalah patroli ke wilayah hutan yang menjadi daerah kerja. Ada dua jenis smart patrol, pertama pelaksanaannya hanya sepekan. Sementara satunya lagi dapat berlangsung 15 hingga 30 hari.

Wilayah hutan yang dimasuki pun berbeda luasnya. “Untuk smart patrol dengan jangka waktu pendek kami hanya “naik” ke daerah yang masih dekat pemukiman penduduk. Itu masih di Kawasan Ekostem Leuser saja,” ujar Suandi. Sementara saat patroli sebulan mereka menjelajah hingga beberapa puluh kilometer ke dalam kawasan hutan, mendekati wilayah Taman Nasional yang sesungguhnya.

Perjalanan itu sangat menguji ketangguhan fisik dan mental para ranger. Seringkali, medan di TNGL yang masih asli, menantang para ranger dengan ancaman bentang alam yang penuh bahaya maut. Tebing tinggi dan licin misalnya. Atau jurang yang sangat dalam. Belum lagi kemungkinan berpapasan dengan para pemburu liar yang nekat dan dilengkapi senjata canggih.

“Kami masih tetap menjalankan tugas ini karena kecintaan pada alam. Pada Leuser khususnya. Kita membutuhkan Leuser. Namun Leuser juga membutuhkan komitmen serius dari kita semua.”

“Kerja kami ini masih sedikit, belum banyak yang bisa kami sumbangkan. Harapan kami hanyalah, kiranya pekerjaan kami ini didukung. Bila melihat tayangan tentang para ranger di Afrika atau India, yang di antara peralatan kerjanya bahkan mencakup drone dan berbagai alat canggih untuk penelitian hutan, kami sering ngenes.”

Suandi berharap suatu saat mereka akan memperoleh dukungan serupa. “Karena Leuser bukan hanya untuk kami, melainkan untuk umat manusia di seluruh bumi ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.