Menengok Lama Tuha di Abdya, Kampung Bekas Pusat Kerajaan Kuala Batu

0
687
Ilustrasi Infanteri A.S. menyerang benteng Aceh di Kuala Batee pada tahun 1832. @wikipedia
Ilustrasi Infanteri A.S. menyerang benteng Aceh di Kuala Batee pada tahun 1832. @wikipedia

Amerika geram. Dua kapal the friendship pengangkut lada dirompak pemuda Lama Tuha, Lauda Langkap. Satu kapal tenggelam di sekitar bibir pantai Lama Tuha, pada tahun 1831. Setahun kemudian, Amerika mengirim 300 lebih Marinir dan angkatan laut membombardir pusat kerajaan Kuala Batu, Lama Tuha.

Lama Tuha, satu-satunya gampong yang berada di kawasan pesisir pantai dalam kecamatan Kuala Batee. Bekas pusat kerajaan Kuala Batu itu kini menjadi salah satu desa tertinggal di Aceh Barat Daya.

Pohon cemara berjejer rapi, ketika kita memasuki desa yang berbatasan dengan Gampong Keude Baro, Kecamatan Kuala Batee. Lama Tuha hanya berjarak 12 kilometer dari Blangpidie, ibu kota kabupaten Aceh Barat Daya. Namun, kita harus menapaki jalanan berbatu, sepanjang empat kilometer untuk sampai kerumah penduduk pertama di desa itu.

Hingga akhir tahun 2010, Lama Tuha masih terisolir. Agak sulit ditembus melalui jalur darat. Hanya rakit yang menghubungkan masyarakat setempat dengan luar kampung. Listrik pun baru dirasakan masyarakat setempat pada awal 2010. Kini jembatan sepanjang 30 meter menautkan Lama Tuha dengan Dusun Kuta Bahagia, Keude Baro.

“Sebelum ada jembatan, penjaga rakit diatur bergiliran oleh warga. Wisatawan yang hendak menikmati panorama alam laut yang indah atau untuk memancing dan ibu-ibu serta anak gadis yang mau ambil siput di kuala Lama Muda harus menyisihkan uang rakit pulang-pergi sekitar Rp. 5000,” ungkap Abdullah Keuchik Lama Tuha.

Semua rumah dan mesjid, sudah tampak bercahaya bila malam tiba. Lama Tuha yang dulu dihuni 87 kepala keluarga, makin ramai pula. “Banyak orang yang kembali setelah memasuki masa damai. Umumnya, mereka eksodus pada masa konflik bersenjata di  Aceh,” paparnya.

Sekarang warga Lama Tuha sudah ada dua orang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seorang menjabat sebagai Sekretaris Gampong dan seorang lagi sebagai pesuruh di  sekolah dasar digampong tersebut.  “Saya bangga pada warga di gampong ini. Mereka sudah memiliki pandangan yang jauh ke depan dan bersedia mendidik anak mereka agar tak sama penghidupannya dengan kami, para orang tua mereka,” katanya bersemangat.

Setiap pagi, katanya, para orang tua menyiapkan kebutuhan anak-anak untuk dapat ke sekolah. Para orang tua berupaya untuk memiliki sepeda motor, agar anak-anak dapat menuntut ilmu dengan baik. “Hanya anak sekolah dasar saja yang berjalan kaki ke sekolah,” tambahnya.

Setahun lalu, seorang gadis Lama Tuha menyelesaikan pendidikan Diploma III Fisioterapi pada sebuah sekolah tinggi di Banda Aceh. Kembang desa, putri Keuchik Lama Tuha tersebut kini juga terpilih menjadi Sarjana Pendamping Gampong yang diprakarsai Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan  Keluarga Sejahtera (BPM PP dan KS) Aceh Barat Daya.

Umumnya warga Lama Tuha berpendidikan hingga sekolah dasar. “Kalau sewaktu saya muda dulu, malah banyak yang tidak tamat SD,” ungkap Abdullah.

Sekarang, sudah banyak orang tua yang peduli, mau menyekolahkan anak mereka. Apalagi, sudah ada SMP terdekat, bantuan Pemerintah Jerman, hanya sekitar empat kilometer dari Lama Tuha. “Anak-anak kami pun banyak yang meneruskan pendidikan jenjang SMA di Susoh, yang berjarak delapan kilometer,” imbuhnya.

Meski Pemerintah Aceh Barat Daya telah menyediakan bus sekolah untuk setiap kecamatan, Gampong Lama Tuha tak masuk rute yang dilalui bus dari Kecamatan Kuala Batee. “Mau tidak mau semua warga memang harus dapat membeli sepeda motor agar anaknya dapat ke sekolah. Kalau jalan kaki itu kan jauh, apalagi tidak ada rumah penduduk sepanjang empat kilometer.

Kami mau minta bantuan pada pemerintah agar kami dapat membeli mobil pick-up yang dapat kami usahakan sebagai aset gampong untuk mengantar anak-anak kesekolah,” ungkapnya.

Warga Lama Tuha, kata Abdullah, memang bersemangat untuk mengubah arah hidup mereka. Meski baru satu orang yang lulus pendidikan tinggi, namun kini sepuluh mahasiswa asal Lama Tuha sedang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh, Susoh dan Blangpidie. “Kami ingin di masa nanti, anak dan cucu kami dapat mengubah Lama Tuha menjadi jauh lebih baik dari masa-masa kami menjalani hidup di sini,” harap Abdullah yang sudah menjabat Keuchik selama dua periode di gampong seluas 6.310 hektar.

Gampong Lama Tuha memiliki 30 hektar wilayah pemukiman, danau sekitar 200 hektar, dan selebihnya adalah areal perkebunan dan pertanian.

Lama Tuha merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan Kerajaan Kuala Batu, pada sekitar tahun 1820-an.  Ketika itu, dari Lama Tuha mengalir rempah-rempah, terutama lada yang dikapalkan ke Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Bahkan, secara historis, disebut-sebut bahwa invasi pertama AS ke kawasan Asia adalah ke pesisir barat daya Aceh ini.

Alkisah, pada tahun 1830-an, Amerika geram. Dua kapal the Friendship pengangkut lada milik AS dirompak pemuda Lama Tuha, Lahuda Langkap. Satu kapal tenggelam di sekitar bibir pantai Lama Tuha, pada tahun 1831. Setahun kemudian, Amerika Serikat yang ketika itu dipimpin Presiden Andrew Jackson mengirim 300 lebih marinir dan angkatan laut dan membombardir pusat perdagangan kerajaan Kuala Batu.

Kejadian itu bermula dari kegusaran para saudagar Kerajaan Kuala Batu yang merasa dikibuli para pedagang Amerika, padahal mereka telah puluhan tahun berniaga secara damai di sana. Belanda turut memprovokasi dan membiayai operasi perompakan oleh para pemuda Lama Tuha yang dipimpin Lahuda Langkap itu. Setelah porak poranda, Lama Tuha pun berada dalam cengkraman kolonial Belanda, hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Namun, masyarakat Lama Tuha tak merasakan arti sesungguhnya menjadi merdeka. Hidup mereka  terisolasi, karena tak ada akses jalan ke daratan Aceh lainnya. Bekas pusat kerajaan itu pun menjadi kawasan tertinggal. Kini, setelah Aceh Barat Daya menjadi kabupaten, Lama Tuha pun mulai menggeliat.

Di gampong bekas pusat kerajaan itu, sampai juli 2013 dihuni 451 jiwa dari 108 kepala Keluarga.  “Selain menjadi nelayan warga Kami juga bertani,” katanya.

Setiap pagi para lelaki pergi melaut, baru siangnya mereka bertani. “Dulu, bertani pun kami harus naik robin (perahu motor) karena perkebunan dan areal persawahan berada diseberang danau. Sekarang sudah ada jalan, jadi tidak begitu susah untuk pergi ke kebun dan sawah,” tutur Abdullah.

Umumnya warga Lama Tuha juga memilik tambak. Ada tambak milik pribadi, ada pula bantuan pemerintah yang diberikan melalui kelompok. “Tambak tersebut umumnya dibudidayakan udang, ikan bandeng dan kepiting,” jelas Abdullah.

Gampong Lama Tuha sudah memiliki beberapa bangunan publik :  sekolah dasar, Pondok Bersalin Desa (Polindes), Gedung Musyawarah, lima unit rumah guru SD, Taman Pengajian Alquran (TPA) dan UPTD Perikanan. “Gampong kami juga sama dengan gampong lain, sering mendapat raskin dan bibit padi serta pupuk dari pemerintah,” katanya.

Bagi warga yang terkena tsunami, mendapatkan bantuan 67 unit rumah bantuan dari Jerman. “Sedangkan rumah yang hanya direhab akibat tsunami ada tujuh unit,” jelasnya.
Kehadiran PNPM, kata Keuchik Abdullah, juga sangat membantu. Selain membangun gedung musyawarah gampong, PNPM juga membuka jalan baru yang kini tengah dikerjakan. Permohonan Gampong Lama Tuhapada pemerintah kabupaten,kata Abdullah, banyak yang diterima dan direalisasikan.

Terakhir, pada tahun anggaran 2013, pemerintah mengadakan pengerasan jalan di sana. “Walaupun sepanjang 1,2 kilometer belum dikerjakan, kami bersyukur dan sangat berterimakasih,” ungkap Keuchik Dolah panggilan akrab Abdullah. [Nasruddin Oos]

Tulisan ini diterbitkan oleh Tabloid Sigupai oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan  Keluarga Sejahtera (BPM PP dan KS) Aceh Barat Daya, halaman 13-14 edisi Juli – Agustus 2013.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.