Pada diskusi Indonesia Mengajar Goes to Community di SDIT Rabbani Quraan School, Selasa, 14 Januari 2019, dari empat Pengajar Muda yang dihadirkan, tiga orang adalah perempuan. Tanpa lepas dari identitas kemuslimahan, bagai sosok Aisyah dalam lagu “Aisyah Adinda Kita” ciptaan grup musik lawas Bimbo, ketiganya memancarkan radiasi semangat dan idealisme yang luar biasa. Wirda, Nita dan Yosa. Itulah nama mereka. Masing-masing ditempatkan di Kabupaten Lebak, Banten; Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah; dan Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Yosa Lanovastia, gadis semampai berkacamata, adalah Pengajar Muda yang baru kembali dari Kepulauan Sula. Berasal dari Lama Inong, Aceh Barat Daya, ia merupakan lulusan FKIP Unsyiah Jurusan Bahasa Inggris. Kepribadiannya ramah dan cerah, ia merasa beruntung dapat bergabung menjadi Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar.

“Grogi dan bingung, saat pertama kali menyusuri jalan di Lekokadai [Kepulauan Sula]. Rasanya semua mata menatap kami, yang berkostum lengkap dengan rompi Indonesia Mengajar,” cerita Yosa sambil tertawa lepas. “Apalagi kami baru sampai kemarin sorenya, setelah 21 jam naik perahu dari Ternate sampai Sanana, ibu kota kabupaten. Lalu dilanjutkan enam jam berperahu lagi ke Mangoli Barat, kecamatan tempat kami ditugaskan.”

Pengalaman berperahu menuju tempat bertugas juga dialami oleh Ulil Rukmana. Satu-satunya wakil kaum Adam dari grup alumnus GIM yang hadir, Ulil adalah pemuda jangkung berkacamata dengan senyum ramah yang terbuka. Ia punya gelar dobel. Lulusan FKIP Unsyiah Jurusan Matematika ini, juga lulus dari Fakultas Psikologi di Universitas yang sama.

“Tempat saya mengajar berjarak satu jam berperahu, dari Desa Mansalong ke Desa Patal,” kata Ulil. Desanya di Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia, ini punya banyak keunikan.

“Di sana ada ‘Telur Indonesia’ dan ‘Telur Malaysia’,” ceritanya. “Telur Indonesia artinya telur yang berasal dari ayam petelur di Indonesia. Sedangkan telur Malaysia, datang dari negara tetangga. Harganya pun berbeda! Telur Indonesia lebih mahal,” Ulil terkekeh.

Dituturkannya betapa kedai di Nunukan menolak menerima rupiah. “Hanya menerima ringgit. Soalnya, kebanyakan pedagang membeli persediaan kedai mereka dari Serawak,” terang Ulil. Harga barang konsumsi di Nunukan tinggi karena pasokan terbatas dan jarang. Akses kendaraan sulit, barang-barang dari pulau Kalimantan harus diangkut perahu atau pesawat terbang kecil.

Nunukan daerah terpencil, wajar bila mengalami berbagai kendala. Lucunya, Lebak yang berada di Provinsi Banten, hanya sepelemparan batu dari ibu kota Jakarta, ternyata juga mengalami alienasi.

Lebak dikenal Dunia melalui novel Max Havelaar, karya sastrawan Belanda Multatuli pada 1860. Sebagian fragmen novel itu menceritakan kisah cinta Saijah dan Adinda, versi Lebaknya Romeo dan Juliet. Berlatar belakang masa kolonial Belanda, apa yang digambarkan Multatuli sebagai Lebak dalam novelnya ternyata belum banyak berubah.

Wirda, gadis mungil sarjana Pertanian Universitas Syiah Kuala, ditempatkan di sana. Di Desa Sangiang Jaya. Cimarga, kecamatan tempat Sangiang Jaya berada, dijuluki “Kecamatan Jembatan Gantung”. Julukan ini muncul karena saking banyaknya jembatan gantung melintasi sungai-sungai di kecamatan tersebut. Untuk mencapai Sangiang Jaya, dari Cimarga orang harus bermobil selama enam jam melewati jalan berliku.

“Karena itu, orang memilih untuk mengendarai motor, mengambil jalan pintas,” kata Wirda. Sebagai Pengajar Muda, ia pun harus bermotor selama hampir satu jam, untuk mencapai Sangiang Jaya. Di sini, ternyata hanya dua-tiga orang penduduk yang paham bahasa Indonesia. Sedangkan Wirda yang asli Aceh Selatan sama sekali tidak paham bahasa Sunda. Apalagi Bahasa Sunda dialek Banten, yang disebut Sunda Buhun atau Sunda Wiwitan oleh warga setempat.

“Selama bulan pertama saya mengajar, saya berkomunikasi dengan Emak (ibu angkatnya, Pen) menggunakan bahasa Tarzan,” Wirda tertawa kecil mengingat saat-saat pertama ia tinggal di Sangian Jaya. “Mereka semua ramah dan baik hati. Selalu tersenyum. Tapi saya betul-betul tidak tahu bagaimana harus mengajar, sedangkan murid-muridnya tidak mengerti saya ngomong apa!”

Tiga bulan pertama, kata Wirda, ia habiskan dengan mengajarkan kosa kata bahasa Indonesia. Siswa-siswinya sangat antusias. Mereka belajar dengan cepat. “Saya juga ketularan bersemangat. Alhamdulillah akhirnya sedikit-sedikit saya bisa bahasa Sunda Wiwitan,” kata Wirda.

Wirda mengajar di Kelas 6 dan Kelas 5. Kelas 5 di SD itu merupakan kelas “raksasa”.

“Siwanya ada 77 orang!” Wirda mengenang. “Yang paling sedikit siswa Kelas 4. ‘Hanya’ 43 orang.”

Padahal jumlah siswa ideal maksimal dalam sebuah kelas hanya 20-25 orang. “Selain saya, hanya ada enam guru termasuk kepala sekolah. Jadi kalau ada guru yang berhalangan, entah karena sakit atau alasan lain, saya sering harus lari-lari. Dari satu kelas ke kelas lain. Di sini memberikan tugas, lalu cepat-cepat lari ke sana, memeriksa pekerjaan siswa. Seperti sedang lomba.”

Sedekat itu Lebak dengan Jakarta, penduduknya banyak yang belum menyadari pentingnya pendidikan. Wirda banyak menghabiskan waktu membujuk orangtua siswa-siswinya untuk “membiarkan” anak-anaknya terus bersekolah.

“Sebab, kalau musim tanam padi tiba, sekolah mendadak sepi. Banyak anak disuruh orangtuanya untuk membantu di sawah. Kalau musim tanam atau musim panen tiba, kami guru-guru seringkali mendadak libur. Tidak ada siswa. Jadi biasanya kami pun ikut turun ke sawah,” kenang Wirda.

Apa yang dialami Wirda dialami juga oleh Nita, dalam bentuk yang lain. Gadis sarjana Arkeologi Islam UIN Ar Raniry ini ditempatkan di Desa Bayah, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Masyarakat di sana gemar mengadakan pesta syukuran. Sebuah pesta bisa berlangsung sehari-semalam. Dan biasanya, sehari setelah pesta banyak siswa tidak masuk sekolah, karena letih. “Yah, kami manfaatkan saja hal ini untuk berjalan-jalan menelusuri Kecamatan Luwu. Pantai dan laut di sana sungguh indah, seperti yang ada di film-film romantis,” ujar Nita.

Bagi Ulil dan Yosa, kurangnya dukungan orangtua pada anaknya agar terus bersekolah, sempat berujung pada pengalaman yang membuat air mata mereka terbit.

Ulil mengajar Kelas 6 di desanya. Suatu hari, selang dua bulan saja dari pelaksanaan Ujian Nasional, salah seorang siswinya datang. Melapor, bahwa ia akan berhenti sekolah karena harus menikah.

“Saya jumpai orangtua siswi tersebut, memohon agar pernikahannya ditunda. Tidak usah dibatalkan, hanya ditunda saja. Sampai siswi saya selesai mengikuti Ujian Nasional,” cerita Ulil. “Namun orangtua siswi saya berkeras bahwa anaknya harus segera menikah. Semua persiapan sudah dibuat. Mereka tak mau menunda, karena tak ingi mendapat malu,” Ulil menarik nafas panjang.

“Saya sangat terpukul. Tapi, tak ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya harus relakan siswi saya, yang jelas masih kanak-kanak itu, menikah. Saya terpaksa menyaksikan sekaligus dua pelanggaran atas hak anak. Hak bermain dan hak memperoleh pendidikan.”

Yosa memiliki pengalaman serupa. “Saya juga kehilangan siswa saya. Orangtuanya tidak mengizinkan anak itu untuk melanjutkan pendidikannya. Padahal Dompet Dhuafa sudah menyediakan beasiswa penuh bagi murid saya itu,” ujar Yosa.

“Murid saya datang ke kelas dengan berurai air mata. Ia minta saya bicara dengan orangtuanya, agar mengizinkan dia untuk terus bersekolah. Saya bolak balik berkunjung ke rumahnya untuk membujuk orangtuanya, tapi sia-sia. Murid saya tetap tidak diizinkan melanjutkan ke SMP.”

Berbagai pengalaman para Pengajar Muda ini menunjukkan, betapa Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa berani yang siap mengabdi tanpa pamrih. Dibandingkan negara lain di dunia, Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan sangat banyak daerah terpencil, jelas memiliki tantangan terhebat dalam memajukan pendidikan anak bangsa.
Akses jalan dan transportasi ke daerah-daerah ini seringkali menjadi alasan mengapa ada begitu banyak desa yang tidak memiliki sarana pendidikan. Sebagian dari kita menyalahkan Pemerintah, yang dinilai lambat mengatasi persoalan ini. Sebagian lagi, seperti anak-anak muda dari GIM ini, memilih untuk bertindak secara nyata.

“Pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Siapa pun yang melihat suatu masalah, harus siap mencari solusinya,” kata Wirda.

“Anak-anak di daerah-daerah terpencil bukan tidak mau belajar. Mereka hanya sangat merindukan kehadiran guru, yang dapat membimbing mereka,” tambah Yosa.

“Setiap orang punya hak untuk memperoleh pendidikan. Kita yang memiliki akses untuk itu, sebaiknya mencoba keluar dari zona nyaman kita, mencoba melihat dunia dari pandangan orang lain,” ujar Nita.

“Dunia pendidikan kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain. Semua itu tergantung pada kita untuk mengubahnya. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan pelita,” pungkas Ulil.

Empat anak muda alumnus GIM itu sudah membuktikannya. Mengajar di tempat terpencil, minim fasilitas, minim tunjangan, mereka telah menyalakan pelita bagi sekian banyak anak bangsa. Mari berhenti mengutuk kegelapan. Nyalakanlah pelita, torehkan arti bagi keberadaan kita.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.