Hari ini 200 Tahun Lalu, Gunung Tambora Meletus

0
448
Hari ini 200 Tahun Lalu, Gunung Tambora Meletus
Gunung Tambora/thoughtco.com

Sigupai.com – Tepat 10 April 200 tahun lalu, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, meletus. Ledakannya hingar hingga Sumatra yang jaraknya 2.000 kilometer lebih. Abu vulkanis Tambora jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku.

Tambora memuntahkan magma hingga 100 kilometer kubik, melepaskan 400 kilometer kubik debu ke angkasa setinggi 44 kilometer dari permukaan tanah, dan menelan 117 ribu korban jiwa. Efeknya benar-benar terasa. Letusan gunung pada 10 April 1815 itu mengubah iklim dunia.

Suhu permukaan bumi menurun dan menyebabkan pendinginan global setahun kemudian. Dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Perubahan cuaca drastis itu menyebabkan penyebaran wabah penyakit dan kelaparan akibat gagal panen di seluruh dunia.

Sisa pecahan pada puncak gunung berbentuk kaldera menggambarkan kedahsyatan letusan Gunung Tambora. Kaldera itu memiliki diameter kurang lebih delapan kilometer dan berkedalaman sekitar 5,6 kilometer dari bibir kawah teratas. Gunung yang semula berketinggian 4.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut, kini menjadi 2.815 mdpl.

Kedahsyatan letusan Tambora juga tertuang dalam naskah kuno Bima, Bo Sangaji Kai. Naskah 120 halaman itu ditulis dalam bahasa Arab-Melayu. Putri Sultan Muhamad Salahuddin atau Sultan Bima terakhir, Siti Maryam Salahuddin, 88 tahun, satu dari beberapa orang yang bisa membaca potongan kisah di naskah tersebut.

Maryam disapa oleh warga setempat dengan sebutan Ina Kau Mary (Ibu Besar Maryam).
“Pada saat itu, hari Selasa subuh. Alam kembali gelap gulita seperti malam hari. Tiba-tiba terdengar bunyi sangat keras seperti meriam. Dikira bunyi orang perang,” kata Maryam di kediamannya, Jalan Gajah Mada 1, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat 10 April 2015.

Baca Juga: Berguru ke Dompu, Mengaji di Lombok

Saat itu, kata dia, hujan abu dan batu terjadi terus menerus hingga tiga hari. Orang-orang kebingungan, tidak tahu apa yang terjadi. “Rumah dan tanaman rusak semua. Rupanya Gunung Tambora meletus,” kisah doktor pada bidang ilmu Filologi Fakultas Sastra Unpad ini.

Warga penduduk sekitar Gunung Tambora tak tersisa. Kekeringan di mana-mana. Cuaca buruk, pertanian terhenti total. Setelah letusan itu terjadi, Sawah tidak bisa ditanami padi hingga bertahun-tahun.

“Orang kelaparan sampai menjual anaknya. Ndak ada apa-apa,” ujarnya.

Air laut terus-terusan pasang. Bencana pada saat itu merata. Penduduk yang tinggal di dekat gunung meninggal, sementara yang jauh menderita kelaparan dan kemiskinan.

Kini, setelah dua abad sejak peristiwa letusan maha dahsyat itu, tanah Bima menjadi sangat subur. Tak ada lagi bencana kelaparan dan kekeringan separah dahulu. Alamnya cantik dikelilingi perbukitan dan lautan.

Bima juga kini terkenal dengan jenis batuannya yang menarik. Tak hanya batu gamping dan marmer, di Bima juga banyak batu yang bisa menjadi bahan untuk pembuatan batu akik.(detik, metrotv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.