TIAP anak pasti punya ibu, berapa pun usianya. Umumnya, ibu adalah sosok penting yang sangat berperan dalam tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Ibu merupakan orang tua perempuan melalui hubungan biologis maupun sosial. Panggilan untuk seorang ibu (apa pun sebutannya), dapat pula diberikan kepada perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis). Misalnya, orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (isteri ayah biologis anak).
Hampir semua bangsa di dunia mengakui peran penting ibu, memuliakan kodrat perempuan, yang merupakan satu-satunya jenis kelamin yang mampu melahirkan anak. Berbagai studi juga menyebutkan komunikasi antara ibu dan anak, bahkan telah ada jauh sebelum sang anak dilahirkan, ketika masih dalam kandungan ibunya.
Namun, secara faktual kita menyimak hubungan tak mesra antara ibu dan anak. Misalnya, ada ibu yang menelantarkan anaknya, ada ibu yang bersedia menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang lain, bahkan ada pula ibu yang rela menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Tapi, dalam banyak kasus, penyimpangan semacam itu sangat kompleks penyebabnya. Tidak semata-mata dapat kita lekatkan kesalahan hanya pada sang ibu semata.
Islam menempatkan ibu dalam kedudukan yang tinggi. Allah memerintahkan untuk berlaku baik pada kedua ibu dan bapak kita. Rasulullah Muhammad SAW, dalam salah satu hadits sampai tiga kali menyebut ibu sebagai orang nomor satu, sebelum menyebutkan: “Bapakmu.”
Untuk itu, penghormatan senantiasa kita beri kepada ibu. Perempuan yang melahirkan, membesarkan dan memberikan dasar-dasar bagi kita untuk memasuki dunia orang dewasa. Mungkin ada masa kita berjarak secara fisik, psikologis dan sosial dengan ibu. Namun, hampir pasti, dalam masa-masa kritis kehidupan seorang anak, sosok ibu sangat berarti untuk menenangkan diri. Hal yang tidak selalu berlaku, bila sang ibulah yang mengalami masa kritis. Namun, apa pun yang terjadi, seperti kata pepatah lama, cinta ibu memang sepanjang jalan.
Ada seorang ibu berkata, “No matter how old you are, how grey your hair might be, you are still and forever be my baby.” Tak peduli berapa gaeknya pun engkau, berapa kelabu rambutmu, engkau tetap dan selamanya akan selalu menjadi anak bayiku.
Seringkali, selain cintanya, kehadiran ibu pun menjadi sesuatu yang taken for granted, atau “memang sudah seharusnya begitu.” Sehingga kita terlupa untuk menghargainya. Sampai, mungkin, suatu saat Tuhan menegur kita, dengan mengambil ibu kita. Bukan dengan cara memanggilnya pulang ke alam baka, melainkan sekadar dengan “mengambil” rohnya, kepribadiannya, atau segala yang kita kenal darinya. Yang tinggal hanya sosok tubuh, tanpa jiwa.
Rasanya mustahil, ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan kita, akan lupa pada kita. Namun itulah yang terjadi pada ibu kandung dua pengarang yang menuliskan kisah pengalaman mereka kehilangan ibu, dalam buku berjudul “Ketika Ibu melupakanku.” Ibundanya yang terkena penyakit Alzheimer, suatu penyakit degradasi syaraf pusat, tidak lagi mengenali anaknya. Saat itulah sang anak menyadari, betapa menyakitkannya kehilangan sosok pengayom yang telah memberinya cinta dan kehidupan. Lebih menyakitkan lagi karena tubuhnya masih ada, dekat dan terjangkau, namun jiwanya telah tiada.
Di dalam Al Quran Allah telah memperingatkan, bahwa suatu saat nikmat yang kita peroleh akan dicabutNya, agar kita tak lupa bersyukur. Memiliki Ibu yang bisa mengomeli, merecoki dan ingin tahu semua urusan kita, Ibu yang mencereweti dan melarang kita melakukan yang kita inginkan, ternyata adalah suatu nikmat. Nikmat tak terhingga, yang mungkin baru akan kita sadari setelah Ibu diambil dari sisi kita. Baru kita sadari, betapa tergantungnya kita pada beliau. Simaklah secarik bait dari Il Divo, grup musik Eropa, dalam lagu “Mama”: Mama thank you for who I am, thank you for all the things I’m not, forgive me for the things unsaid, for the time I forgot.
Jadi, sebelum terlambat, mari berikan pada ibu, apa yang menjadi haknya: perhatian dan cinta. [NM]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.