by Nashrun Marzuki
PERTENGAHAN September 2002, Bali Post pernah menggambarkan kondisi Giri Sasak saat kemarau. Gunung Sasak di dekat desa itu yang awalnya hijau berubah warna menjadi kecoklatan. Pohon-pohon meranggas, tak tahan deraan musim kemarau.
Bila Gunung Sasak menderita seperti itu, Kecamatan Kuripan dan sekitarnya terancam kering kerontang. Lahan persawahan retak-retak karena tidak mendapatkan air, rumput berwarna coklat. Bahkan tidak satu pun jenis tanaman pangan bisa hidup termasuk ketela pohon.
Di tengah kondisi itu, muncul setitik harapan. Desa Kuripan Selatan memiliki sumber mata air yang cukup tua. Namanya Aik Jambe. Air ini berasal dari rembesan air gunung. Tapi, lokasi mata air lebih rendah ketimbang lahan persawahan warga. Hal serupa, dirasakan warga Desa Giri Sasak.
Kampung-kampung di Lombok Barat itu kering. Gersang. Air, yang ada, tergenang di kaki bukit. Tak ada cara agar tanaman di sana memperoleh kehidupan, kecuali dengan mengantarkan air ke atas bukit dan mengaliri lahan-lahan warga. Dengan bantuan pipa sepanjang ratusan depa dan beberapa pompa, akal manusia berhasil menghijaukan desa, yang tadinya mustahil. Irigasi yang disebut Donga’ Langit ini (bahasa Sasak Lombok), kini telah meningkatkan taraf hidup warga desa.
“Sepanjang-panjang jalan, masih lebih panjang akal manusia.” Begitu kata pepatah. Sistem Irigasi Donga’ Langit (warga setempat menyebut: Idola) adalah contoh baik dari penerapan pepatah itu. Betapa manusia, sebagai lambang keberadaan Tuhan di bumi, membuktikan kalimatullah tentang nisbah kesempurnaan ciptaan-Nya.
Meski selalu disebut sebagai pembeda krusial antara ciptaan paling sempurna dan ciptaan nomor dua, bagi banyak kaum, akal tampil sebagai kemewahan yang mahal. Bila dihadapkan pada kesulitan, banyak yang memilih mengangkat tangan. Menyerah. Alih-alih menjadikan kesulitan sebagai tantangan, dan mencoba menggunakan pikiran jernih untuk mencari solusi, kita kerap memilih berhenti berusaha. Sebuah pilihan, yang sesungguhnya menghina fitrah sebagai manusia.
Pilihan-pilihan demikian mengantarkan kita pada persimpangan. Antara kemakmuran dan kemajuan, versus keterbelakangan dan kemiskinan. Antara berserah diri pada belas kasihan orang lain dan gigih mengelola kekuatan sendiri. Antara mengeluh tak diperhatikan atau mengelola aset yang dimiliki untuk berdikari. Pastinya, pilihan terakhir selalu ada di tangan kita. Bergerak maju, sekaligus berguru pada capaian-capai terbaik para leluhur di masa lalu.
Belasan anak muda Aceh Barat Daya menyaksikan Warga Giri Sasak dan Kuripan Selatan meningkatkan taraf hidup dengan cara sederhana. Mereka melihat dan mendengar seksama kisah warga, yang gigih berupaya bangkit untuk berdaya. Tantangan dari alam, yang tidak bersahabat, disambut semangat untuk menang.
Para pemuda di kedua desa memacu diri untuk bekerja keras agar dapat bertahan hidup, demikian juga kaum perempuan. Tak ada pengangguran di Kuripan Selatan. Setiap pagi, mereka semua memulai hidup, langsung bekerja. Ukuran keberhasilan sebuah keluarga adalah apabila anak-anak lelakinya bekerja. Ciri pembeda satu keluarga dan keluarga lain dari segi kesejahteraan, antara lain, adalah jumlah pemuda di sebuah keluarga.
Bekerja tidak diartikan menjadi pegawai di sebuah kantor. Melainkan memiliki mata pencarian. Menggunakan akal dan kreatifitas, menciptakan sumber penghasilan. Mereka tidak jera dan terus menerus melakukan pembaruan.
Mereka yakin, hidup bukanlah permainan komputer yang dapat ditebak, dan dikuasai. Hidup senantiasa bergerak maju dan berubah. Bila manusia tidak terus menerus membarui caranya berpikir dan berjuang, maka dia akan tertinggal. Terlindas oleh zaman.
Bagi warga Kuripan Selatan, tak memiliki lahan yang patut, bukan penghalang untuk membuat sentra-sentra produksi. Mereka memproduksi bata. Karena kayu langka, mereka pakai jerami sebagai bahan bakar. Sedang bahan baku tanah dibeli dari desa-desa lain. Ada juga kelompok warga yang memproduksi kasur dan bantal, padahal kapas harus didatangkan dari luar desa.
Filosofi aliran air menarik untuk diamati di “sistem Idola” di Giri Sasak. Air yang biasanya selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, berhasil diajak berkompromi untuk mengalir melalui pinggang-pinggang bukit. Artinya, bila caranya tepat, apa pun dapat kita perbuat. Bila warga telah bersepakat, tak ada lagi yang terasa berat. [] nm

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.