Larangan Ambil Foto di Everest Membingungkan dan Tak Masuk Akal

0
19
Larangan Ambil Foto di Everest Membingungkan dan Tak Masuk Akal
Gunung Everest/Outside.com

Sigupai.com – Musim pendakian Gunung Everest 2021 akan segera berlangsung, setelah absen tahun lalu karena pandemi COVID-19. Basecamp Everest di Nepal akan kembali dipenuhi aktivitas saat pendaki menetap di Gletser Khumbu pada akhir Maret. Di sini, mereka menghabiskan beberapa pekan aklimatisasi sebelum pendakian berakhir Mei nanti.

Seperti biasa, tidak ada orang yang diizinkan berada di sisi selatan gunung tanpa izin dari pemerintah Nepal. Tahun ini pemerintah mengumumkan beberapa aturan tambahan. Salah satunya sangat membingungkan: larangan ambil foto di Everest. Siapa pun tak boleh mengambil atau berbagi foto pendaki lain di gunung tanpa izin Departemen Pariwisata Nepal.

Direktur Divisi Pendakian Gunung Departemen Pariwisata Nepal, Mira Acharya mengatakan kepada Kathmandu Post, setiap pendaki dapat mengambil, berbagi, dan membuat gambar serta video kelompok mereka atau diri sendiri. “Tapi mereka akan menghadapi tindakan [hukum] jika mengambil, membuat, dan berbagi foto pendaki lain tanpa persetujuan departemen.”

Acharya mengklarifikasi bahwa selalu melanggar hukum bagi pendaki Everest untuk membagikan foto pendaki Everest lainnya tanpa persetujuan pemerintah. Tetapi tahun ini Departemen Pariwisata Nepal bermaksud menindak praktik tersebut.

Dilansir dari Outside, tidak jelas hukuman atau denda seperti apa yang akan dijatuhkan pemerintah kepada orang-orang yang mengambil foto tanpa izin. Bahkan kurang jelas bagaimana pemerintah menegakkan aturan tersebut. Hal ini mengingat betapa mudahnya bagi siapa pun yang memiliki ponsel dan koneksi internet untuk mengambil dan berbagi foto secara diam-diam dan seketika.

Gara-gara Foto Purja?

Departemen Pariwisata Nepal tidak merespon permintaan konfirmasi terkait larangan ambil foto di Everest tersebut. Namun, motivasi di balik itu mudah ditebak: Nepal mungkin ingin menghindari kejadian seperti pada 2019 ketika foto milik pendaki Nepal, Nirmal “Nims” Purja, viral ke seluruh dunia.

Purja memposting foto ini di Facebook pada awal 23 Mei. Fotonya merekam “kemacetan” pendaki yang sedang menuju Hillary Step dan lereng terakhir sebelum tiba di puncak Everest.

Hanya dalam hitungan hari, foto itu memantul ke seluruh dunia. Memicu kontroversi yang diliput media-media besar seperti The New York Times. Bahkan, The New York Times menerbitkan empat cerita berbeda yang menampilkan gambar tersebut. Editorialnya menyerukan Nepal mengambil tindakan membatasi lalu lintas pendaki di atas gunung.

Lalu, sebuah konsensus dengan cepat muncul di kalangan media Barat: Everest menjadi terlalu ramai. Ditambah lagi terlalu banyak pemandu dan klien tidak berpengalaman, serta kurangnya pengawasan dari otoritas berwenang Nepal menjadi sebagian penyebabnya.

Di hari yang sama, pendaki Amerika Don Cash meninggal beberapa jam setelah mencapai puncak Everest. Cash salah satu dari sekitar 200 orang yang pergi ke puncak dunia hari itu. Dia menemui “kemacetan” dalam perjalanan ke bawah. Ketika Cash dan pemandu sherpa-nya tiba di Hillary Step, mereka terpaksa menunggu giliran sekira dua jam.

Kemacetan menjelang Puncak Everest
Foto milik Purja yang memperlihatkan kemacetan menjelang puncak Everest/Nytimes.com

Setelah musim 2019 yang juga ditandai dengan sedikitnya 11 kematian pendaki, Nepal mengumumkan peraturan baru. Perusahaan pemandu akan menerima izin jika mereka memiliki minimal tiga tahun pengalaman mengatur ekspedisi pendakian ketinggian. Setiap pemandu harus membuktikan kalau mereka telah mendaki setidaknya satu puncak gunung dengan ketinggian lebih dari 21 ribu kaki. “Meskipun merupakan langkah ke arah yang benar, dua aturan utama dapat dengan mudah dilewati,” tulis Arnette di Outside.

Mengontrol Pers

Greg Vernovage, pemandu IMG yang memimpin ekspedisi di Everest lebih dari sepuluh tahun, menilai larangan ambil foto terkait keinginan Nepal mengontrol pers sebanyak mungkin.

Vernovage percaya jika pemerintah Nepal punya waktu untuk menegakkan aturan itu, mereka perlu mengevaluasi ulang apa yang penting. “Tidak hanya untuk negara tetapi juga semua ekspedisi yang membayar untuk berada di gunung.”

“Saya menggunakan foto sebagai alat keamanan.” Vernovage dan timnya telah memutuskan rute pendakian melalui Lhotse Face dan Gletser Khumbu berdasarkan gambar dari area tersebut.

Sering kali foto-foto di area tersebut memperlihatkan pendaki di dalamnya. Bahkan, kata Vernovage, di puncak Everest pun hampir tidak ada pendaki yang mendapatkan momen berpose sendirian. “Saya dapat mengirimkan Anda 20 hingga 30 foto orang yang telah mendaki Gunung Everest dengan IMG, dan kebetulan ada orang lain yang tidak mereka kenal di latar belakang.”

Selain aturan foto, Nepal mewajibkan pendaki baru menyelesaikan karantina selama sepekan dan menyerahkan bukti tes negatif Covid-19. Jumlah izin pendakian tidak dibatasi.

Sementara itu, beberapa perusahaan ekspedisi secara independen memutuskan meninggalkan Everest musim ini daripada menanggung risiko terkait virus corona. Artinya, mungkin sedikit lebih mudah menghindari keramaian di puncak. Namun, kemacetan di Gletser Khumbu dan tim-tim berbeda yang berkumpul bersama di kamp-kamp yang lebih tinggi tetap menjadi keniscayaan.

Dan mustahil bagi pemerintah Nepal mencegah foto-foto Everest dibagikan ke publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.