Jumlah pasien positif corona di Aceh hingga Rabu, 8 April 2019 pukul 15.00 WIB tetap lima bukan enam orang.

Pemerintah Aceh telah meminta data yang sempat dipublikasikan Gugus Tugas Covid 19 Nasional itu dikoreksi.

Juru Bicara Covid 19 Pemerintah Aceh Saifullah Abdul Gani melalui keterangan tertulisnya mengatakan hasil pemeriksaan swab positif yang baru diterima Gugus Tugas Covid 19 Aceh adalah milik pasien berinisial AJ.

Pasien tersebut telah diperiksa hingga ketiga kalinya dan ia sudah lama dirawat di RSUZA Banda Aceh.

Dari lima kasus positif, kata Saifullah, tiga sudah sehat dan dipulangkan ke rumah. Lalu satu dalam perawatan RSUZA dan satu lagi meninggal dunia.

Hingga Rabu sore, jumlah Orang Dalam Pemantauan atau ODP di Aceh menjadi 1.304. Ada penambahan 22 kasus dibandingkan Selasa.

Sementara, ODP yang selesai dipantau 638 sedangkan dan 666 lagi masih dipantau.

Adapun Pasien Dalam Pengawasan atau PDP bertambah satu kasus dan kini berjumlah 58.

Dari jumlah itu, 50 orang sudah sehat dan pulang. Lalu enam orang masih dirawat di rumah sakit rujukan di tingkat provinsi maupun kabupaten kota.

Termasuk satu pasien yang terkonfirmasi positif coronavirus di RSUZA Banda Aceh.

Tetap Jaga Jarak

Selain memberikan perkembangan data pasien positif corona di Aceh, Saifullah menyampaikan imbauan dari pemerintah dan Forkopimda Aceh kepada masyarakat agar tetap disiplin menjalankan upaya-upaya pencegahan. Misalnya, menjaga jarak fisik dengan setiap orang dan dan tidak berkumpul di tempat-tempat umum.

Jumlah ODP, tambah dia, terus bertambah di Aceh. Maka dari itu, Saifullah mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan cap buruk kepada ODP karena setiap orang berpotensi menjadi ODP bahkan PDP.

“Masyarakat wajib mendorong ODP berobat ke Puskesmas terdekat. Mendukung isolasi mandiri selama 14 hari, tetap menjaga jarak, namun tidak menjauhinya,” ujarnya.

Bila ODP dikucilkan, kata Saifullah, ada kemungkinan mereka menutup diri, bersembunyi di kamar, dan mereka enggan berobat karena malu.

“Akibatnya, ia berpotensi terjadi sumber penularan berantai mulai dari keluarganya, tetangganya, dan masyarakat sekitarnya.”[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.