Tahapan-tahapan program Sistem Administrasi dan Informasi Gampong sudah selesai dilakukan. Tinggal lagi, mengaplikasikan program itu di empat kecamatan. Selain itu, seperti diutarakan Bupati Aceh Barat Daya Jufri Hasanuddin, SAIG di lima kecamatan tersisa mesti segera dilakukan.
Namun, berkaca dari program di tahap pertama, ada beberapa hal mesti diperbaiki jika replikasi program dilakukan. Fasilitator Teknik Pemetaan untuk SAIG Kabupaten, Said Aziz Alatas mengungkapkan, saat pengambilan data banyak warga masih bertanya apa tujuannya. “Ini temuan saat pleno dan pengambilan ID JOSM,” ujarnya. Said menyarankan, perlu penjajakan serius terhadap warga agar mereka mendapatkan informasi optimal terhadap tahapan-tahapan SAIG.
Masih soal data, Said juga menyarankan FPAG mesti paham betul proses menghasilkan data tingkat klasifikasi kesejahteraan masyarakat. Kurangnya pemahaman proses ini oleh beberapa FPAG, kata Said, berpengaruh pada kurangnya penggalian tingkat kesejahteraan bagi penduduk gampong dampingan. “Sehingga saat membuat matriks sebagai dasar untuk mengetahui tingkat kesejahteraan, matriks tersebut tidak siap,” ujar Said. Terkadang, ketika Fasilitator Teknik membuat formula, belum tepatnya klasifikasi sehingga ada matriks yang ada harus dirasionalkan kembali dan dibincangkan dengan warga.
Pada tahapan pemasukan data hasil sensus, Said menemukan masih banyak belum sesuai dengan aturan data yang terintegrasi dengan aplikasi. “Akibatnya, saat memanfaatkan data ke aplikasi, data tidak terbaca, sehingga pekerjaan tidak efektif karena harus mengulang memperbaiki data kembali,” ungkap Said. Contohnya, tidak boleh ada tanda kutip pada penulisan nama warga.
Faktor ini, kata dia, disebabkan kurangnya pemahaman yang diberikan kepada FTP  tentang aturan data yang harus diikuti. “Sehingga tidak tersampaikan aturan data tersebut kepada petugas peng-input data,” ujar Said.
Temuan saat validasi data dan pleno bersama warga juga menjadi catatan Said. Salah satunya, kurangnya keterbukaan masyarakat memberikan data saat sensus berakibat ketika pleno banyak warga memprotes data yang dihasilkan. “Selain itu, kurang efektifnya waktu untuk validasi data sehingga tidak semua data tervalidasi dan perlu diulang,” ungkapnya.[]RZ
Ingin tahu lebih banyak tentang SAIG? Klik di sini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.