Cerita Abu Yusuf, Penjaga Hutan Lindung Aceh Barat Daya

0
926

Setelah pensiun, ia memilih menjaga kawasan hutan lindung Aceh Barat Daya dari para penebang liar.
HUJAN baru beberapa menit yang lalu mengirimkan tetesan-tetesannya ke tanah. Sebagian tetesan itu hinggap di pucuk durian, pala, pisang dan aneka tanaman lainnya di dekat tikungan menanjak tersebut: di kilometer 8 jalur Trangon-Aceh Barat Daya. Jalur ini merupakan jalan tembus ke Kabupaten Gayo Lues.
Dari arah tikungan di sisi barat, lelaki renta itu melangkah terburu. Kakinya yang dibungkus sepatu boot karet bergegas melewati jalanan beraspal. Hujan yang menderu seperti bunyi mesin pesawat tak ayal mengguyur tubuhnya. Keranjang yang disampirkan seperti ransel di bahunya juga ikut basah.
Di sebuah rumah kayu di pinggir jalan ia melepas peralatan kerjanya. Dari kantong celana dikeluarkannya bungkusan plastik berisi rokok nipah dan tembakau. Lelaki itu, Yusuf Hasdy. Ia akrab disapa Yahwa atau Abu Yusuf. Sapaan “Yahwa” dan “Abu” di Aceh digunakan untuk memanggil pria yang sudah kakek-kakek.
Abu Yusuf salah satu pekebun yang tinggal di lintasan Trangon (Gayo Lues)-Babahrot (Aceh Barat Daya). Di jalur itu, terdapat hektaran lahan masyarakat yang ditanami pohon durian, pala, bahkan serai. Selain itu, ada juga area yang dipakai beberapa perusahaan pertambangan.
Lokasi tinggal Yusuf masuk dalam area Dusun Jati Baris, Gampong Ie Mirah, Kecamatan Babahrot. Yusuf mulai tinggal di sana sejak 1996. Oktober tahun itu, ia baru saja pensiun sebagai Kepala Bidang Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Provinsi Aceh. Namun, ia menghabiskan sebagian karir pegawainya sebagai guru. Pria kelahiran Blangpidie, 1 Oktober 1940 ini, satu-satunya alumni SMA Padang Meurante, Susoh. “Saya angkatan pertama di sekolah itu, dari 53 siswa hanya saya yang lulus,” ujar Yusuf.
Sebelum SMA, ia mengecap pendidikan di Sekolah Guru Bersertifikat atau SGB, setingkat Sekolah Menengah Pertama. Tamat dari situ, Yusuf mulai mengajar di Sekolah Dasar. Barulah setamat SMA, pada 1960 ia meninggalkan Blangpidie menuju Banda Aceh. Di sana, Yusuf melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung cabang Banda Aceh yang berada di Unsyiah. IKIP ini yang menjadi cikal bakal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah sekarang.
***
Abu Yusuf masih menyulut rokok nipah dan menyeruput kopi trubuk sambil berpangku ke meja kayu di teras rumah ketika hujan mulai berhenti. “Ayo, kita makan siang dulu,” ajaknya.
Rumah itu ditopang tiang-tiang kayu. Ruang tamu berfungsi sebagai tempat salat. Beberapa sajadah tersampir di gantungan. “Jika ada orang yang singgah, mereka biasanya salat di sini,” ujar Sarjanuddin, anak Abu Yusuf. Sarjan tinggal di Blangpidie. Sehari-hari, ia sibuk berkutat di Akademi Komunitas Aceh Barat Daya sebagai wakil koordinator. Sepekan sekali, ia datang ke sini untuk melihat kondisi kebun.
Untuk penerangan, seperti lampu di ruang makan, Yusuf menggunakan listrik dari tenaga surya yang disimpan ke baterai.
Salah satu lampu di ruang makan dihidupkan. Pemandangan menarik tersaji di dekat meja makan. Ada jendela yang berhadapan dengan sungai batu yang mengalir lewat belakang rumah. Bunyi gemericik air sungai menyelingi acara makan siang.
Saat jalur Trangon masih berupa jalan tanah seadanya, Yusuf mulai menanam durian jenis Monthong yang berasal dari Thailand. Alasan ia menanam durian untuk membuka mata masyarakat terutama pemuda agar mau berusaha sendiri, tidak lagi menarik kayu (log) pada Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Kala itu, kata Yusuf, sebagian besar pemuda di Babahrot bekerja menarik kayu di HPH. Bahkan ada yang datang dari Nagan Raya. “Upahnya besar sekitar Rp35 ribu per hari, makanya banyak yang ingin kerja sebagai penarik kayu,” ujar Yusuf.
Saat Yusuf mulai membuka kebun, sebagian orang kala itu menganggapnya gila. “Mana ada orang mau membuka kebun di tengah hutan,” ujarnya tertawa. Namun, Yusuf tak peduli. Ia terus melanjutkan kegiatannya berkebun.
Suatu ketika, datang pejabat dari Dinas Kehutanan Aceh ke lokasi itu. Mereka mendampingi tim dari Kementerian Kehutanan RI. Area kebun Yusuf dianggap masuk ke dalam hutan lindung. Tapi, kepada para pejabat yang datang itu Yusuf memaparkan alasannya. “Saya tanya, yang mana hutan lindung itu? Kalau hutan lindung itu betul-betul diawasi, jangankan batang, akarnya saja tak boleh dipotong, tapi ini sudah berapa HPH yang masuk dan mengambil kayu,” kata Yusuf.
Padahal, tambah Yusuf, sebagian lahan yang ditinggalkan itu dirinya yang mereboisasi. Ia meminta pejabat kehutanan itu membantunya untuk menanam kembali kawasan yang dulunya digunakan HPH.
Para pejabat kehutanan itu, kata dia, hanya diam saja dan tak bisa membantah. Bahkan, pejabat dari Kementerian Kehutanan memuji usaha yang telah ditempuh Abu Yusuf.
Terinpirasi dari dodol Garut, setelah panen Yusuf punya ide membuat dodol durian. Ide itu disampaikan pada camat setempat. “Jika di Garut ada dodol, kenapa di sini kita tidak bisa buat? Padahal, bahan bakunya kan ada.” Namun, entah kenapa, hal itu belum terealisasi sampai sekarang.
Kini, energi Yusuf tak setangguh dulu lagi. Namun, usia tidak membuatnya menyerah. “Sekarang, setiap hari saya hanya sanggup membersihkan enam batang durian,” ujarnya sambil tertawa.
Seperti layaknya pendekar, Yusuf juga terus berjuang untuk melestarikan kawasan itu.  Seperti baru-baru ini, Yusuf melarang pengambilan batu-batu sungai untuk keperluan proyek. Alasan Yusuf sederhana saja. “Kalau batu-batu itu diambil, ketika debit hujan tinggi, tidak ada lagi pengganjal arus sungai. Dampaknya ke pemukiman di hulu sana seperti Ie Mirah.”[]RZ
(tulisan ini dimuat di Tabloid Sigupai Edisi V/2014)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.