Dedikasi Umi untuk Perempuan Aceh Barat Daya

1
1629

[tags color=”blue”] Terlahir dari keluarga sederhana, mental dan sikapnya terbiasa siap dalam kondisi apapun.[/tags]
NADA bicaranya bersemangat dan kalimat yang diucapkan apa adanya. Sesekali ia melemparkan guyonan tanpa mengurangi kewibaannya. “Saya memang suka bercanda,” ujar perempuan baya itu. Misnurwati namanya. Ia istri Sekretaris Aceh Barat Daya Ramli Bahar.
Sehari-hari ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kodim 0110 Aceh Barat Daya. Namun, di balik itu seabrek jabatan melekat di pundak wanita sederhana ini. Mulai dari Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh Barat Daya, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, dan Bidang Sosial di Aisyiah Aceh Barat Daya. “Saya suka berorganisasi karena itu menjadi tempat saya bertukar informasi dan pengalaman. Saya suka bergaul dengan orang-orang, tapi bukan untuk hura-hura,” ujar ibu empat anak ini.
Dharma Wanita organisasi yang beranggotakan istri Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia menjadi Ketua DWP Aceh Barat Daya pada Maret 2013 setelah pelantikan sang suami sebagai sekretaris daerah pada Maret 2012. Sejak saat itu, Misnurwati tidak pernah absen dalam setiap kegiatan DW. Bahkan, ia tak sempat mengganti seragam kantornya ketika ikut kegiatan.
Pada 13 Januari 2015 misalnya, digelar peringatan Hari Ulang Tahun DWP Aceh Barat Daya. Misnurwati turun tangan sejak awal. Ia mengerahkan semua anggota DPW ikut berpartisipasi. “Agak terlambat memang, harusnya diadakan pada Desember. Tapi karena di Aceh ada peringatan 10 tahun tsunami, kami tidak ingin mendahuluinya,” ujar perempuan kelahiran Banda Aceh, 2 Januari 1962, ini.
Seabrek kegiatan pun dilakukan untuk menyemarakkannya. Mulai dari aneka lomba seperti menghias kue blackforest, tiup balon, gerak jalan santai, hingga membuat taman dan memberikan bantuan untuk kaum duafa. Peringatan nan meriah ini, dinilai Misnurwati tidak bakal terjadi jika tak ada kebersamaan antara para anggota DW dan panitia penyelenggara. “Kami juga memberikan bingkisan tali asih untuk istri almarhum Wakil Bupati Yusrizal Razali,” ujarnya.
IMG_20150113_112746
Foto bersama istri bupati Yenni Elviza dan pengurus Dharma Wanita Aceh Barat Daya. (Dok DW)
Selama menggawangi DWP Aceh Barat Daya, Misnurwati juga merasa terbantu dengan adanya Yenni Elviza, istri Bupati Aceh Barat Daya, sebagai penasehat organisasi tersebut. Mereka saling bertukar pendapat untuk mencari ide-ide baru bagi DWP.
Salah satu tantangan bagi Misnurwati ketika DWP mengadakan pelatihan keterampilan atau rapat program kerja. Beberapa anggota terkadang terlambat hadir karena kesibukan pekerjaan di kantor masing-masing. “Lokasi tinggal juga jauh, ada yang dari Manggeng dan Babahrot. Karena tidak bisa dielakkan lagi, kadang saya mulai terus rapatnya,” ujar Misnurwati.
Seusai pelatihan, biasanya anggota yang terlambat akan bertanya kembali kepada Misnurwati. Sang ibu ketua pun dengan senang hati menjelaskan kembali. “Saya tetap ajarkan mereka hingga berulang-ulang supaya mereka bisa. Saya ikhlas melakukannya dan tidak merasa capek,” ujarnya. Tujuan Misnurwati, setidaknya hal itu menjadi kenangan untuk para anggota ketika ia tak lagi menjabat sebagai Ketua DWP Aceh Barat Daya. Karena itu, di Dharma Wanita, figur Misnurwati menjadi sosok bertanya para anggota terutama tentang keterampilan berkaitan dengan rumah tangga.
Tak semua dari keterampilan itu dikuasainya. Untuk mengatasinya, Misnurwati rajin mencari referensi di internet. “Kadang kita ingin buat keterampilan yang ini, tapi saya tidak bisa. Ya sudah, saya cari dulu cara-caranya di internet, baru kemudian saya ajarkan,” ujarnya. Jika referensinya tidak ada, barulah Misnurwati mencari orang lain yang ahli untuk mengajari anggotanya.
Semua itu ia lakukan demi kaum perempuan di Aceh Barat Daya. Kini, kata Misnurwati, tantangan Dharma Wanita ke depan adalah memajukan kaum perempuan agar tidak mendapatkan diskriminasi baik di pekerjaan maupun rumah tangga. Caranya, kata dia, lewat motivasi dan pekerjaan yang bisa menambah pendapatan keluarga.
Dedikasi serupa ia lakukan juga bagi keluarganya. Tiga anaknya tinggal di Banda Aceh, seorang lagi di Yogyakarta. “Ada yang sudah kawin, ada yang kuliah dan di pesantren,” ujar ibu yang kerapa disapa Umi oleh anak-anaknya ini. Jika rindu pada anak ia menelepon dan menanyakan kabar mereka.
Tak pelak, bersama sang suamilah, Misnurwati menghabiskan hari-harinya. Misnurwati tak sungkan bertukar pendapat tentang kesulitan yang dihadapinya terkait pekerjaan. Begitu juga, ia kerap memberikan saran kepada sang suami. Jika sarannya diterima, ia tak lupa bertanya apa solusi yang telah dilakukan bila masalah itu telah selesai. “Saya iklhas menjalankan semua kewajiban, baik sebagai istri Sekda, ketua organisasi maupun sebagai seorang ibu,” ujarnya.
Saat Ramli Bahar beberapa kali berganti jabatan, Misnurwati juga tak surut menyemangati suaminya. Contohnya, saat Ramli Bahar mundur dari jabatannya sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Barat Daya. “Saat itu beliau bilang ke saya apa sebabnya harus mundur, kesulitan apa yang dihadapi. kalau bertahan apa konsekuensinya. Saya sarankan, kalau memang itu terbaik bagi ayah dan keluarga, silakan mundur,” ujar Misnurwati. Ia menerima dengan lapang dada jika memang suaminya harus mundur atau diberhentikan dari sebuah jabatan. “Ya, siap dilantik juga harus siap dicopot juga,” ujarnya tertawa.
Siap dalam kondisi apapun, begitulah mental Misnurwati terdidik sejak dulu. Besar di lingkungan militer, ayahnya dulu bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kodam Iskandar Muda. Sementara, Ibu Misnurwati bekerja sebagai penjahit. “Dulu ibu saya mengambil upahan menjahit baju untuk menambah pendapatan keluarga karena bapak saya hanya PNS golongan kecil. Uang itu juga digunakan untuk biaya sekolah saya,” ujarnya.
Karena itulah, kata dia, jasa seorang ibu harus diingat sampai kapan pun. “Kita harus mengingat apa yang pernah dilakukannya bagi kita. Ibu selalu mengingatkan kepada kita agar jangan melakukan hal-hal jelek. Ibu juga ikut mendorong kita untuk mendapatkan pendidikan. Jak laju sikula, mangat carong, begitu katanya. Karena itulah kita bisa seperti sekarang ini.”
Pada 1980, Misnurwati bertemu Ramli Bahar. Waktu itu, Ramli mahasiswa di FKIP Unsyiah. Kisah cinta keduanya sempat terombang-ambing; putus nyambung. Hampir dijodohkan dengan orang lain, Misnurwati tetap memilih Ramli Bahar.
Setahun setelah pertemuan itu, Misnurwati mengikuti jejak ayahnya. Ia lulus seleksi menjadi PNS di Kodam Iskandar Muda. Ia dan Ramli Bahar kemudian menikah pada 1986.
Apa beda Ramli Bahar dulu dan sekarang? “Ya, dulu tidak segemuk itu,” ujar Misnurwati tertawa. “Tapi, prinsipnya masih sama hingga sekarang. Beliau itu periang. Semua masalah dibawa enjoy seakan-akan tidak ada masalah. Makanya saya juga ikut terbawa seperti beliau suka bercanda juga.”[] RZ
tulisan ini dimuat di Tabloid Sigupai, Aceh Barat Daya, edisi VI

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.