Selasa, 14 Januari 2019, bertempat di SDIT Rabbani Quraan School, Babah Lhok, Aceh Barat Daya, beberapa puluh anak muda berkumpul mendengarkan penuturan seorang gadis berkerudung merah jambon. Sesekali tertawa, sesekali membeliak, antusiasme mereka terlihat jelas. Ketika waktu bicara si kerudung jambon habis, rekannya yang berkaca mata dan bergaya funky menyusul menceritakan beberapa anekdot, yang mendapat sambutan tak kalah antusias.

Mereka berjumlah empat orang, tiga gadis dan satu pemuda penuh semangat yang merupakan alumnus Gerakan Indonesia Mengajar. Salah seorang dari mereka bahkan baru saja kembali ke Aceh dari tempat tugasnya di Kabupaten Kepulauan Sula, Propinsi Maluku. Ditempatkan selama setahun untuk mengajar di sekolah daerah-daerah terpencil, empat anak muda Aceh ini berbagi pengalaman unik dan menarik.

Indonesia Mengajar, gerakan nirlaba penuh tantangan besutan Anies Baswedan, Rektor (pada saat itu) Universitas Paramadina, Jakarta. Dimulai pada 2009, GIM mengumpulkan ratusan intelektual muda lulusan terbaik berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi di wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia. Gerakan Indonesia Mengajar memiliki misi membangun jejaring pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman akar rumput. Strategi gerakan Indonesia Mengajar yang mengirimkan manusia sebagai strategi utama (bukan uang atau barang), menjadikan gerakan ini unik, namun membumi. Yang “diserang” adalah langsung “penyakit” utama rintangan kemajuan pendidikan di Indonesia. Yaitu kekurangan tenaga pengajar yang mau ditempatkan di daerah terpencil.

Sejak tahun 2010 Gerakan Indonesia Mengajar telah mengirimkan lebih dari enam ratus tenaga Pengajar Muda atau PM. Mereka melalui tahapan seleksi yang cukup panjang. Mulai dari mengirimkan 10 esai tentang motivasi dan pengembangan diri yang dapat mendukung si pelamar bila kelak terpilih menjadi PM, sampai tahap akhir yaitu pelatihan selama dua pekan di Cisarua, Bogor.

Setiap tahun jumlah sarjana yang melamar untuk menjadi PM meningkat secara tajam. Dari sekitar seribu empat ratusan pendaftar pada Angkatan I tahun 2010, naik menjadi lebih dari 9000 orang pada tahun 2017. Mereka merupakan sarjana lulusan terbaik universitas di dalam dan luar negeri. Banyak dari pendaftar merupakan orang muda yang telah memiliki pekerjaan, namun memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar atau GIM.

Jumlah kabupaten yang mendapat “suplai” Pengajar Muda di seluruh Indonesia sampai saat ini adalah 17 kabupaten. Indonesia Mengajar menempatkan Pengajar Muda selama lima tahun berturut-turut. Angka lima tahun ditetapkan karena tingkat keberhasilan sebuah program baru bisa dilihat perkembangannya setelah lima tahun.
Tidak semua kabupaten di Indonesia “mendapat jatah” pengiriman tenaga Pengajar Muda. Prioritas GIM adalah daerah tertinggal. Karena itu GIM menggandeng erat para bupati, karena dari pucuk pimpinan di kabupaten-lah diketahui, daerah mana yang memerlukan kedatangan Pengajar Muda.

Di Aceh, kabupaten yang memperoleh kunjungan PM selama ini adalah Aceh Utara (2011-2016) dan Aceh Singkil (tahun keempat penempatan). Tidak banyak kabupaten di Aceh yang mendaftar sebagai daerah sasaran GIM. Kabar baiknya, karena sebagian besar kabupaten di Aceh telah keluar dari kategori “daerah terpencil dan tertinggal”.

Selesai bertugas, para alumnus GIM di Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan menggagas gerakan lanjutan bertajuk Indonesia Mengajar Goes to Community. Tujuannya agar kaum muda Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya yang memiliki visi misi dan idealisme untuk mengembangkan pendidikan, mengenal lebih mesra apa itu GIM, dan selanjutnya tertarik untuk bergabung.

Acara yang diusung oleh kolaborasi Komunitas Agam-Inong Aceh Barat Daya dan beberapa “gerakan anakan” dari GIM seperti Ruang Belajar Indonesia, Kelas Inspirasi Aceh Barat Daya dan Sigupai Mambaco ini menghadirkan empat alumnus GIM. Mereka adalah Wirda Aina, Yosa Lanovastia, Nita Juniarti dan Ulil Rukmana. Bertugas di Kabupaten Lebak, Banten, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Selama satu setengah jam empat anak muda itu berbagi pengalaman dan semangat. Beberapa peserta dialog yang terpacu semangatnya untuk bergabung dengan GIM, dipersilakan untuk mengakses website Gerakan ini di indonesiamengajar.org.id.

Saat ini GIM memang tengah mengadakan rekrutmen untuk penugasan Angkatan XVIII. Dengan hashtag #Aksi8aik, batas rekrutmen hingga 31 Januari 2019. Salut untuk para Pengajar Muda! Semoga Gerakan Indonesia Mengajar menjadi gerakan yang menginspirasi anak muda Indonesia untuk terus bekerja keras, tanpa mengejar pamrih.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.