PEMERINTAH Aceh mengapresiasi pameran poto bersama yang diselenggarakan lintas komunitas fotografi. Karya-karya dari ujung lensa para fotografer diyakini mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjalin semangat kebersamaan untuk suksesnya pembangunan Aceh di masa mendatang,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, membacakan sambutan tertulis Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat membuka pameran foto bersama lintas komunitas dan Profesi, Rabu, 20 Desember 2017.

Pameran bertema Aceh Today itu digelar di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh. “Terima kasih kepada fotografer Aceh yang terlibat dalam pameran ini. Semoga pesan moral yang disampaikan pada pameran ini dapat diterima oleh masyarakat kita. Sehingga masyarakat Aceh semakin memahami pentingnya kebersamaan dalam mendukung suksesnya pembangunan di daerah ini,” ujar Reza.

Tak semata menunjukkan kualitas seni fotografi yang dimiliki para fotografer Aceh, lebih dari itu, pameran ini diyakini sarat pesan moral untuk disampaikan kepada masyarakat. Di antaranya sebagai sarana saling mengingatkan bahwa bencana besar pernah memporak-porandakan Bumi Serambi Mekah. “Namun dengan semangat pantang menyerah Aceh terus berbenah sehingga akhirnya mengalami kemajuan pesat seperti yang kita rasakan sekarang ini.”

Selain itu, pameran foto dapat memberi pemahaman tentang kebencanaan dan mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, karena Aceh berada dalam kawasan ring of fire, sehingga sangat rawan bencana. “Meski demikian, kita jangan trauma atau selalu dicekam ketakutan. Pengetahuan yang baik tentang masalah kebencanaan tentu akan dapat membantu kita untuk memahami cara-cara terbaik dalam penanggulangan bencana.”

Pameran foto juga dianggap sebagai sarana yang sangat tepat untuk melihat kemajuan yang dicapai Aceh dalam kurun 13 tahun terakhir. “Kemajuan ini tentu tidak tentu tidak bisa dilepaskan dari solidaritas yang ditunjukkan dunia. Hasil jepretan fotografer Aceh tentu mengingatkan kita untuk terus memperkuat semangat solidaritas ini, sehingga kita dapat berbagi dan saling bekerjasama untuk membantu saudara-saudara kita yang mengalami bencana.”

Setelah 13 tahun Tsunami

Aceh hari ini tentu tidak bisa dipisahkan dengan Aceh masa lalu, yang berisi berbagai kenangan dan cobaan. Salah satu ingatan yang membayang dalam benak masyarakat Aceh adalah bencana tsunami pada 26 Desember 2004.

Peristiwa itu salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia dengan jumlah korban sangat banyak, mencapai 200 ribu orang. Gelombang raya tsunami itu bahkan berimbas ke negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, Sri Langka dan India.

Melihat kerusakan yang diakibatkan tsunami, sulit membayangkan Aceh bisa bangkit dalam waktu singkat. Namun berkat kuatnya solidaritas internasional, dukungan untuk Aceh terus mengalir, sehingga dalam waktu empat tahun, berbagai perbaikan telah tampak di Bumi Serambi Mekah.

Sekarang, setelah 13 tahun tsunami, pembangunan Aceh semakin menunjukkan progres mengagumkan. Mereka yang tidak tahu tentang cerita tentang tsunami Aceh tentu akan sulit percaya bahwa Aceh pernah mengalami kerusakan yang amat parah akibat bencana. “Beruntung ketajaman mata lensa teman-teman fotografer telah merekam semua perkembangan yang terjadi di Aceh selama ini. Dari hasil bidikan lensa kamera para fotografer ini, masyarakat dapat mengetahui dinamika pembangunan Aceh dari waktu ke waktu. Di sinilah kita dapat memahami betapa pentingnya peran para fotografer dalam mengabadikan berbagai momen bersejarah yang ada di sekitar kita,” ujar Reza.[] RILIS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berkomentar
Masukkan nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.